Membangun
Budaya Positif yang berpihak pada murid
Pendidikan
yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Tujuan pendidikan adalah menuntun (
memfasilitasi/ membantu) anak untuk
menebalkan garis samar-samar agar dapat
memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya (KHD, 1936, Dasar-Dasar
Pendidikan). Ada 3 semboyan yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam
menuntun yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo
mangun karso, tut wuri handayani artinya di depan memberi
contoh, di tengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan
prinsip ini berlaku untuk semua pamong atau guru dan murid di taman siswa. Dari
tuntunan itu akan mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai manusia dan
anggota masyarakat.
Filosopi Ki Hajar Dewantara
menjelaskan bahwa seorang guru mempunyai
nilai dan peran untuk menuntun murid yang memiliki kodrat alam dan kodrat zaman
menuju kebahagiaan yang setinggi-tingginya melalui proses pembelajaran. Nilai Guru Penggerak untuk menuntun
murid yaitu mandiri, reflektif,
inovatif, kolaboratif, berpihak pada murid sedangkan Peran Guru Penggerak
diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain,
mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, menggerakkan komunitas
praktisi. Dengan nilai dan peran yang dimiliki oleh Guru Penggerak dapat
diimplementasikan untuk membuat perubahan demi kepentingan pembelajaran bagi
murid. Prakarsa perubahan yang direncanakan melalui pendekatan Inquiri
Apresiasif (IA) dengan melihat asset/potensi yang dimiliki sekolah
dengan dukungan semua warga sekolah untuk mewujudkan Visi Sekolah yang telah
ditetapkan bersama. Dalam mewujudkan
Visi Sekolah dengan menggunakan tahapan BAGJA yaitu Buat pertanyaan, Ambil
pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi.
Dari tahapan BAGJA tersebut akan
muncul pembiasaan-pembiasaan positif di
lingkungan sekolah yang dilakukan secara terus menerus secara teratur akan
membentuk budaya positif. Budaya positif akan menimbulkan rasa aman dan nyaman
pada murid di lingkungan sekolah. Budaya positif mendorong murid untuk mampu
berfikir, bertindak dan mencipta yang merdeka, mandiri dan bertanggungjawab.
Belajar
budaya positif banyak konsep-konsep yang pelajari diantaranya tentang materi :
a. Disiplin
positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk belajar kontrol diri
dengan menggali potensi kita, agar tercapai tujuan mulia, yaitu sesuatu menjadi
seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai;
b. Teori kontrol mempunyai pandangan
bahwa kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia, semua
perilaku memiliki tujuan, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda, anda tidak
bisa mengontrol orang lain, Kolaborasi dan konsensus menciptakan
pilihan-pilihan baru, model Berpikir Menang-menang;
c. Teori motivasi terdiri dari motivasi
eksternal dimana seseorang melakukan sesuatu karena untuk menghindari hukuman,
untuk mendapatkan imbalan dan motivasi internal dimana seseorang melakukan sesuatu untuk menghargai diri
sendiri yang berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang dijadikan keyakinan
kelas/sekolah;
d. Hukuman dan penghargaan
Bahwa
penghargaan berlaku sama dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk
seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang
yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor
ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn,
1993). Penghargaan mempunyai dampak yang
kurang baik bagi seseorang diantaranya Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka
Panjang, Penghargaan menghukum, Penghargaan mengurangi ketepatan, Penghargaan
tidak efektif, Penghargaan merusak hubungan, Penghargaan menurunkan kualitas,
Penghargaan mematikan kreatifitas, Penghargaan mengurangi motivasi intrinsik;
e. Nilai kebajikan dan keyakinan kelas
mempunyai tujuan mulia yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tindakan
di lingkungan kehidupan. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat
positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama
maupun latar belakang ;
f. Posisi
kontrol guru terhadap murid diantaranya
pemberi hukuman, pembuat rasa bersalah,
teman, pemantau, manajer;
g. Kebutuhan dasar manusia ada 5 yaitu
bertahan hidup, kasih sayang dan rasa
diterima, penguasaan, kebebasan, kesenangan;
h. Segitiga restitusi dapat dilakukan oleh guru
maupun orang tua dalam menyikapi masalah terhadap anak. Segitiga restitusi
dapat dilakukan dengan langkah-langkah yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang
salah, menanyakan keyakinan.
Hal yang menarik dalam
mempelajari modul ini, saya lebih bijaksana dalam menangani permasalahan murid
dan belajar mengendalikan emosi
diri serta belajar untuk
memposisikan diri untuk dapat menyelesaikan secara musyawarah agar permasalahan
dapat dibangun secara bersama-sama untuk menuju solusi yang terbaik sehingga
budaya positif terbentuk.
Saya mendapatkan wawasan
pengetahuan yang dapat menginspirasi untuk membuat perubahan dalam menuntun
murid dan menyikapi segala permasalahan dengan bijaksana. Selama ini dalam
menyelesaikan masalah murid dilakukan dengan dengan kata-kata kasar, memvonis
anak bersalah tanpa mendengarkan kronologis kejadiannya terlebih dahulu. Dengan
pengetahuan budaya positif yang dimiliki dalam Pendidikan Guru Penggerak,
paradigma penyelesaian masalah dirubah dengan pendekatan Segitiga Restitusi
dengan posisi guru sebagai Manajer.
Awalnya saya lebih sering menggunakan posisi kontrol
pemberi hukuman kepada murid yang sekiranya dianggap lebih baik dan memberi
efek jera agar murid dapat taat pada
peraturan. Berjalannya waktu anak yang diberi hukuman ternyata secara
psikologis menjadi pendiam pada saat proses pembelajaran. Dengan melihat
kejadian seperti itu, saya belajar untuk memposisikan diri untuk menerapkan
posisi manajer dalam menikapan permasalahan dengan anak.
Perasaan saya setelah memberi sangsi hukuman dengan
dengan kata-kata yang kasar kepada anak dan anak menjadi pendiam, dalam hati
saya merasa bersalah. Untuk menebus kesalahan, anak yang saya beri hukuman
dalam setiap pertemuan proses pembelajaran saya dekati untuk diberi motivasi internal agar kepribadiannya
menjadi lebih baik.
Setiap anak dengan perilakunya yang positif maupun
negatif mempunyai maksud dan tujuan
menimbulkan konsekkuensinya masing-masing. Perilaku yang dilakukan anak
dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kita sebagai guru dapat
memfasilitasi kebutuhan dasar tersebut. Dan apabila ada permasalahan dengan
murid lakukan perubahan untuk selalu mengajak murid belajar menyelesaikan permasalahan secara bersama sesuai dengan
nilai-nilai kebajikan universal agar tujuan mulia dapat tercapai. Peran guru
penggerak terus belajar untuk melakukan refleksi atas segala apa yang sudah
direncanakan dan diaplikasikan untuk perbaikan yang lebih baik lagi dalam
membentuk budaya positif sekolah.
Dalam berinteraksi dengan murid saya sering menerapkan
posisi kontrol pemberi hukuman dengan asumsi agar siswa lebih jera dan
diharapkan untuk taat pada peraturan walaupun muncul dampak psikologis pada
murid yang terkenang selama hidupnya karena pernah dimarahi dan diberi hukuman.
Disamping pemberi hukuman saya pernah menerapkan posisi saya sebagai teman
dalam menyelesaikan masalah siswa. Perasaan saya dengan posisi kontrol pemberi
hukuman dan sebagai teman merasa ini
solusi terbaik untuk mendisiplinkan siswa ternyata kenyataan yang muncul siswa
menjadi murung dan pendiam. Untuk menyikapi permasalahan murid perlu perubahan
dengan posisi kontrol sebagai Manajer dengan belajar menyelesaikan permasalahan
dengan pendekatan segitiga restitusi. Perasaan yang ditimbulkan dengan
penerapan segitiga restitusi anak merasa dihargai, belajar bertanggunjawab atas
segala tindakannya dan dituntun untuk belajar memperbaiki perilakunya sendiri.
Saya sebagai guru merasa senang dapat menyelesaikan permasalahan bersama sebab
siswa dapat belajar dari kesalahannya untuk berpedoman pada kesepakatan kelas
yang dijadikan sebagai keyakinan. Perbedaan yang muncul dari posisi kontrol
yang saya terapkan ternyata pemberi hukuman maupun guru menjadi teman perilaku
siswa menjadi merasa takut, pendiam, tidak ceria, merasa bersalah, tidak
percaya diri, merasa ketergantungan sedangkan posisi sebagai manajer perilaku
siswa menjadi ceria, senang, percaya diri, bertanggungjawab, menghargai orang
lain dan berkomitmen.
Sebelum belajar modul budaya positif, saya menerapkan penyelesaiaan masalah dengan
tahapan segitiga restitusi yang tidak
utuh artinya ketika saya sudah berhasil meminta murid untuk mengakui
kesalahannya cukup untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya tidak diberi
motivasi internal sesuai nilai-nilai kebajikan.
Tahapan segitiga restitusi dilaksanakan semuanya dengan
cara pertama menstabilkan identitas dengan tujuan untuk memberi rasa aman dan
tenang kepada murid secara psikologis serta memberi deskripsi bahwa setiap manusia bisa berbuat kesalahan. Kedua
memvalidasi tindakan kesalahan dengan cara
mengajak murid untuk mengungkapkan perbuatannya kenapa melakukan
perbuatan salah. Ketiga menanyakan
keyakinan dengan cara menanyakan kepada murid untuk mengingatkan bahwa sekolah
mempunyai keyakinan kelas agar murid dapat meyakini kesepakatan kelas yang
sudah dibuat bersama-sama untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.
Hal lain yang
dapat dilakukan untuk mendukung proses terciptanya budaya positif di kelas
maupun di lingkungan sekolah yaitu
perlunya kolaborasi yang baik antara semua warga sekolah dan membangun kesamaan
persepsi tentang budaya positif sekolah yang didalamnya ada nilai-nilai
kebajikan dan terpenuhinya sarana
sekolah yang berpihak pada murid yang dapat mewujudkan sekolah yang aman,
nyaman dan menyenangkan dalam proses pembelajaran.
RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA
Judul Modul : Budaya Positif
Nama Peserta : Riyanto, S,IP
Rancangan tindakan aksi nyata untuk pengimbasan Budaya Positif di sekolah yang meliputi Latar Belakang, Tujuan, Tolok Ukur, Linimasa
tindakan yang akan dilakukan, Dukungan yang dibutuhkan dapat dilihat pada link di bawah ini :
Video Rancangan Tindakan Aksi Nyata - Modul 1.4 Budaya Positif