11 Mei 2023

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2



Tujuan Pembelajaran Khusus:  

CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.

1.   Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan 'Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya' dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah?

Pemimpin pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya  bahwa seorang pemimpin mampu menemukenali aset yang ada di sekolah atau komunitas. Dengan berpikiran berbasis aset mampu berpikir ke masa depan yang positif untuk melakukan perubahan dalam dunia pendidikan sesuai dengan aset yang ada. Komunitas atau sekolah pasti memiliki yang  namanya modal utama yang dapat dioptimalkan oleh pemimpin dalam menegelolah sumber daya yang ada. Sumber modal utama yang ada  yaitu modal manusia, modal sosial, modal politik, modal lingkungan, modal fisik, modal agama dan buday, modal finansial. Dari ke 7 modal tersebut dianalisa untuk mendukung program sekolah yang akan diimplementasikan. Pengimplementasian bisa dilakukan di kelas dengan  mengamati kelas dan bertanya serta berkolaborasi dengan siswa untuk memberikan kelas yang nyaman dan menyenangkan.  Guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran Kompetensi Sosial emosional dan Berbudaya Positif dengan keberpihakan  kepada murid. Implementasi  di sekolah, saya    bekerjasama dengan rekan sejawat melakukan diskusi untuk membuat program yang berpihak kepada murid misalnya menyusun metode pembelajaran bagi murid, membuat kesepakatan sekolah untuk mencerminkan budaya positif sekolah, memberikan bimbingan dan tuntunan kepada siswa yang bermasalah dengan pendekatan segitiga restitusi maupun coaching dengan guru dan murid. Implementasi di masyarakat sekitar yaitu bekerja sama dengan komite sekolah  mengundang orang tua murid menyusun program sekolah yang berpihak pada murid. Bekerja sama dengan lembaga/dinas misalnya kecamatan, puskesmas, kepolisian, kantor desa maupun Koramil setempat  yang bisa membantu dan mengembangkan program sekolah.

2.   Tunjukkan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas?

Pengelolaan sumber daya yang tepat  untuk membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas yaitu mengikuti lomba sains maupun non sains yang diselenggarakan oleh dinas/lembaga atau sektor swasta  untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan dan keterampilannya. Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat dan bakatnya di sekolah sebagai pengembangan potensi murid yang berkualitas dan mengikutinya jika ada perlombaan. Untuk pembentukan karakter atau sikap yaitu murid datang tepat waktu sebelum jam 07.00 WIB, mengucapkan salam, senyum, sapa kepada semua warga sekolah, berbudaya menjaga kebersihan, melaksanakan shalat dzhuhur, shalat dhuha, mengaji dan melakukan literasi sesuai jadwal yang sudah terprogram.

3.   Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak?

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya berhubungan dengan modul lainnya diantaranya modul 1.1 bahwa  seorang pemimpin mampu memiliki filosopi yang dicerminkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Sung Tuladha Mangun Karsa, Ing Madya Mangun Karsa dan Tutu Wuri Handayani. Contohnya Guru mampu  menuntun dan membimbing  murid untuk menemukan kebahagiannya baik di dunia maupun di akhirat dengan cara mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat bakatnya masing-masing. Dalam modul 1.2  pemimpin mempunyai  nilai dan peran demi terciptanya sekolah yang menjadi wadah bagi murid yang berkarakter dan berkualitas. Salah satu contoh Seorang pemimpin harus kreatif, mandiri dan mampu menggerakkan komunitasnya untuk membentuk perubahan bersama warga sekolah dengan mengadakan lomba-lomba, seminar maupun lokarkarya dalam dunia pendidikan. Modul 1.3 seorang pemimpin memiliki visi ke depan dengan segala aset yang dimilikinya demi  keberpihakan kepada murid yang mampu menceatak generasi yang berkarakter sesuai dengan potensinya. Modul 1.4 pemimpin mampu menciptakan budaya positif dengan melihat aset yang ada  agar tercipta kedisiplinan. Contoh murid membuat kesepakatan kelas dengan perpatokan kepada nilai-nilai kebajikan universal. Modul 2.1 bahwa seorang pemimpin pembelajaran berusaha untuk memenuhi kebutuhan belajar murid dengan mempertimbangkan  3 aspek yaitu kesiapan belajar murid, minat belajar dan profil belajar murid serta penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Modul 2.2  dimana pemimpin  menerapkan Pembelajaran Sosial dan Emosional  untuk murid dengan melihat kompetensi yang dikembangkan yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Modul 2.3. Pemimpin bisa melakukan Coaching untuk supervisi  akademik  demi pelaksanaan proses pembelajaran yang berpihak kepada murid. Pemimpin pembelajaran melakukan Pra Observasi, Observasi dan Pasca Observasi terhadap rekan guru untuk melihat sejauhmana perencanaan yang dibuat dapat diaplikasikan di kelas pada saat proses pembelajaran yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam Modul 3.1. Pemimpin bisa menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam permasalahan yang mereka hadapi dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut. Dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan yaitu menegenali nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, pengujian benar atau  salah, pengujian paradigm benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, buat keputusan dan lihat lagi keputusan dan refleksikan. Sebagai seorang pemimpin yang meminpin sebuah sekolah dihadapkan ada persoalan yang perlu diselesaikan baik dilema etika maupun bujukan moral. Permasalahan itu muncul bisa dari murid, rekan guru, komite sekolah maupun dengan lembaga lain yang perlu disikapi dan dibuat keputusannya.

4.   Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang telah berubah pada diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini?

Sebelum saya mempelajari modul 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya belum mengetahui bagaimana cara untuk mengelolah sumber daya berbasis aset dalam sebuah komunitas atau sekolah. Yang muncul dalam pemikiran saya sekolah yang dilihat banyak segi kekurangan atau kelemahannya dalam mengelolah sumber daya untuk melaksanakan program. Apalagi berkaitan dengan finansial  yang sudah terbentuk mindset bahwa kegiatan tanpa finansial tidak bisa berjalan. Dengan mempelajari modul ini, saya dapat mengubah paradigma lama menjadi paradigma baru dalam mengelolah aset dengan cara berpikir yang berbasis aset artinya pemimpin pembelajaran dapat menggali potensi-potensi positif yang ada di lingkungan kelas, sekolah maupun masyarakat sekitar yang dapat membawa perubahan untuk melaksanakan program sekolah yang berpihak pada murid yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemikiran saya berubah  yang tadinya berpikiran berbasis kekurangan/kelemahan dengan rasa psimis dalam melaksanakan kegiatan beralih ke pemikiran berbasis aset dengan rasa optimis dan berani mencoba melaksanakan kegiatan  sekolah dengan menjalin kebersamaan atau kolaborasi secara intern dan ekternal di lingkungan yang ditempati.

 

 

16 April 2023

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1



Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

    Ki Hajar Dewantara  memiliki pandangan filosofis yang relevan dalam  pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin dalam menuntun murid untuk menemukan kebahagiaan dan keselamatan  baik di dunia maupun di akhirat. Filosopi yang perlu dimiliki oleh seorang pamong yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani menjadi semboyan yang  perlu diterapkan dalam menuntun murid.
    Ki Hajar Dewantara mengajarkan pentingnya pendidikan yang holistik yang meliputi pendidikan akademik, moral, dan karakter. Dalam mengambil keputusan perlu memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan bersama serta tidak hanya mempertimbangkan kepentingan  pribadi atau kelompoknya. Pandangan filosofisnya bahwa pengambilan keputusan sebagai pemimpin harus mempertimbangkan banyak faktor dan informasi yang berbeda untuk membuat keputusan yang tepat dan bijaksana.
    Sebagai seorang pemimpin perlu memiliki nilai-nilai kebajikan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita memiliki pengaruh besar terhadap prinsip-prinsip  penyelesaian dilema etika seorang pemimpin dalam memimpin institusi moral. Untuk memutuskan keputusan perlu kecermatan ketelitian dan hati-hati agar keputusannya tidak salah dan tidak berakibat fatal bagi seorang pemimpin.  Pemimpin memiliki nilai-nilai saling menghormati, bekerjasama,  integritas, kejujuran, dan tanggung jawab yang tinggi, berjiwa besar merupakan nilai yang perlu dimiliki pemimpin untuk menggerakkan lembaga yang dipimpinnya sehingga memikirkan dampak saat ini dan jangka panjang akan lebih mungkin diambil dalam proses pengambilan keputusan.
    Dalam Pendidikan Guru Penggerak dengan adanya pendamping atau fasilitator dapat membantu dan membimbing individu untuk belajar membuat keputusan  yang berbasis nilai-nilai kebajikan dengan memperhatikan dampak yang muncul saat ini  dan masa mendatang serta mengevaluasi atas alternatif keputusannya.  Pendamping atau fasilitator juga dapat membantu individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sesuai dan efektif dengan dirinya dalam pengambilan keputusan di lingkungan sekolahnya. 
    Begitu juga dapat membantu individu untuk memahami paradigma berpikir dalam penyelesaian kasus dilema etika dengan  langkah-langkah yang harus diambil dalam proses pengambilan keputusan, termasuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, mempertimbangkan opsi-opsi yang tersedia, mengevaluasi konsekuensi dari setiap opsi, dan memilih opsi yang terbaik. Individu dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang cara-cara untuk mengambil keputusan yang tepat, terutama dalam konteks situasi yang kompleks atau tidak pasti. 
    Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya dapat membantu guru untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan mengambil keputusan yang tepat. Dalam pembelajaran Sosial emosional ( PSE ) guru harus mempunyai kompetensi untuk memunculkan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran diri, keterampilan  berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.
Dalam menghadapi permasalahan, guru mampu  mempertimbangkan nilai-nilai moral dan etika yang terlibat serta mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik dapat mengambil waktu untuk merenung dan mempertimbangkan situasi secara hati-hati sebelum membuat keputusan. Selain itu, guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik juga dapat membantu dalam membangun hubungan yang baik dengan siswa dan rekan kerja, sehingga dapat memperoleh dukungan dan masukan dalam menghadapi dilema etika. Perlunya koordinasi, kolaborasi dan diskusi dengan tim serta konsultasi dengan lembaga atau instansi terkait   sangat diperlukan sebelum keputusan dibuat agar tidak salah langkah.
    Dalam konteks pembelajaran, guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik dapat membantu siswa membangun proses belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan pada saat belajar di kelas. Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)  adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Dengan integrasi pembelajaran berdiferensiasi murid dapat  mengembangkan kemampuan sosial emosionalnya  sehingga dapat membantu murid untuk belajar sesuai dengan gaya belajar yang diinginkannya. 
    Kasus-kasus  moral atau dilema etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik karena pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk nilai-nilai moral dan etika individu. Seorang pendidik diharapkan untuk menjadi teladan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika yang baik. Guru menjadi pusat perhatian dalam berperilaku bagi murid sebab menurut murid, guru orang yang dijadikan panutan dalam pembelajaran di sekolah. Seorang pendidik juga dapat menggunakan kasus-kasus dilema etika atau bujukan moral  tersebut sebagai bahan diskusi dalam kelas untuk membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral dan etika yang baik.
    Disamping itu, Pengambilan keputusan yang tepat memiliki dampak yang besar pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.  Terbangunnya hubungan atau lingkungan yang nyaman dapat menghasilkan kinerja yang  yang lebih baik dan dapat melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab. Seorang pemimpin atau pengambil keputusan dapat membuat keputusan yang tepat, hal tersebut dapat membawa dampak positif pada lingkungan sekitarnya.
    Pemimpin memiliki tantangan-tantangan dalam pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika di lingkungan sekolah sangat   kompleks dan sulit untuk dipahami. Misalnya permasalahan tingkat kehadiran murid yang rendah disebabkan karena kemalasan, faktor sakit dan keperluan lainnya. Seorang pemimpin perlu keberanian dalam membuat keputusan dengan segala konsekuensinya dengan mempertimbangkan segala sesuatunya dari berbagai sudut.  Selain itu keterbatasan waktu menjadi  tantangan juga dalam mengambil keputusan. Seringkali, keputusan harus diambil dalam waktu yang sangat singkat, sehingga mempersulit proses pengambilan keputusan yang tepat. Yang lainnya tekanan dari berbagai pihak artinya pengambilan keputusan terkadang dipengaruhi oleh tekanan dari berbagai pihak, seperti orang tua, pihak sekolah, atau masyarakat. Untuk menyikapinya dibutuhkan  kerjasama dan keterlibatan semua pihak yang terkait, seperti guru, siswa, orang tua, dan staf sekolah, dalam proses pengambilan keputusan. Keterlibatan ini dapat membantu memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan sudut pandang dan kepentingan semua pihak yang terlibat, serta menghasilkan solusi yang lebih baik dan tepat. 
    Pengambilan keputusan yang tepat dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap pembelajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Murid memiliki kebutuhan belajar yang berbeda maka guru perlu memberikan pelayanan yang berbeda pula. Untuk mengetahui perbedaan dalam belajarnya diperlukan asesmen diagnostik untuk pemetaan murid. Guru menyiapkan konten, proses serta produk  yang beragam sesuai materinya. Keputusan yang tepat akan membantu kita memilih metode pengajaran yang tepat, mempertimbangkan berbagai faktor seperti kemampuan, kebutuhan, minat, dan gaya belajar murid kita, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi murid.
    Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Dalam kehidupan sekolah murid belajar dalam segala aspek baik sikap, pengetahuan dan keterampilannya yang didapat di sekolah sebagai proses pembelajaran dan pengembangannya dalam menjalani hidup untuk menemukan kebahagiannya.  Setiap murid memiliki potensinya yang perlu digali dan dikembangkan demi meraih prestasi yang diinginkan untuk masa mendatang. Murid juga dapat menyelesaikan permasalahan yang dialaminya dan dapat menemukan solusi atas permasalahannya. Dengan pendekatan segitiga restitusi, permasalahan dapat terselesaikan dan dapat memahami atas masalahnya serta murid dapat mengerti adanya kesepakatan kelas yang perlu ditaati bersama.
    Pemahaman tentang potensi dan kebutuhan murid-murid yang berbeda juga sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan yang tepat. Pemimpin pembelajaran yang baik harus dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi murid-murid, serta memberikan bimbingan dan motivasi yang tepat. Modul-modul sebelumnya yang membahas tentang kemampuan interpersonal dan sosial emosional juga sangat penting dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pembelajaran dan kepemimpinan di sekolah. Kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik dengan murid-murid, guru-guru, dan stakeholder lainnya di sekolah dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk memahami situasi yang terjadi dan mengambil keputusan yang tepat.  
    Pemimpin juga memperhatikan 4 implementasi pembelajaran sosial dan emosional  yaitu  mengajarkan 5 kompetensi sosial emosional  secara spesifik dan eksplisit, mengintegrasikan 5 kompetensi sosial emosional dalam praktik mengajar serta kurikulum akademik,  menciptakan iklim kelas, budaya dan kebijakan sekolah, menguatkan 5 kompetensi sosial emosional ( KSE) pendidik dan tenaga kependidikan.
    Modul-modul sebelumnya dan modul materi ini saling terkait dan membentuk fondasi penting bagi pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pembelajaran dan kepemimpinan di sekolah. Penting bagi pemimpin pembelajaran dan guru-guru untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip yang telah dipelajari dalam modul-modul sebelumnya dan modul materi ini untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik dan membantu murid-murid meraih potensi terbaik mereka sesuai dengan harapan yang dinginkan. Benang merah dari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin menuntun saya untuk lebih holistik dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek untuk mendapatkan keputusan yang tepat dari berbagai masalah  kasus-kasus dilema etika maupun bujukan moral agar bisa memilih dan memilahnya dengan berbagai paradigma berpikir dan bentuk prinsip penyelesaian masalah dan dapat diuji dengan 9 langkah pengambilan yang tepat agar keputusannya dapat berdampak kepada murid, berbasis nilai-nilai kebajikan dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggungjawab sehingga permasalahannya dapat terselesaikan dengan baik.
    Dengan materi ini saya memahami dengan baik konsep-konsep  dalam modul ini yaitu dilema etika atau bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Ada hal yang menarik dalam mempelajari modul ini, saya belajar banyak bagaimana seorang pemimpin mempunyai tanggungjawab yang besar dalam memimpin sebuah lembaga. Pemimpin memiliki sebuah organisasi yang perlu diatur dengan baik dimana melibatkan banyak orang dan berbagai kepentingan. Dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki, seorang pemimpin mampu membuat keputusan secara bijaksana atas segala permasalahan yang muncul disamping program-program yang harus dibuat dan perlu dilaksanakan. Keputusan yang diambil supaya memberikan perubahan yang positif dan berguna bagi semua pihak. Terkadang seorang pemimpin dalam melaksanakan perjalanannya menemukan permasalahan walaupun  hal itu tidak diharapkan. Namun sebagai seorang pemimpin perlu membuat keputusan berani atas tindakannya dengan berbagai konsekuensi yang muncul yang perlu diterima. Harapan seorang pemimpin dapat memenuhi semua pihak agar tercapai hasil yang sangat baik atas kepemimpinannya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin perlu hati-hati sebelum memutuskan agar keputusannya tidak salah dan berakibat kurang baik bagi dirinya. 
    Dalam mengambil keputusan perlu memahami kerangka paradigma berpikir apakah situasi yang dihadapi  ini individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Mengidentifikasi ini untuk membawa penajaman dalam situasi yang dihadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai yang sama-sama penting. Pemimpin perlu juga memahami 3 prinsip dalam penyelesaian masalah yaitu mana yang dipakai apakah berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan atau berpikir berbasis rasa peduli. Selanjutnya pengambilan keputusan melalui 9 tahapan pengujian yaitu:
  • Mengenali nilai –nilai yang saling bertentangan
  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
  • Pengujian benar atau  salah : Uji legal, Uji regulasi, Uji intuisi, Uji Publikasi, Uji panutan
  • Pengujian benar lawan benar
  • Melakukan prinsip resolusi
  • Investigasi Opsi Trilema
  • Buat keputusan
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan
    Selama ini saya pernah membuat keputusan dalam menyelesaikan permasalahan terhadap siswa yang tingkat kehadirannya rendah. Setelah diadakan musyawarah dengan berbagai warga sekolah dan orang tua akhirnya murid pindah ke paket B. tetapi dalam menyelesaikan permasalahan belum memenuhi berpikir 4  paradigma dilema etika dan belum melalui 3 prinsip serta konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan saya belajar dalam modul 3.1 dalam mengambil  keputusan harus memenuhi pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dalam memutuskan dilema etika secara bijaksana demi keberpihakan kepada murid.
    Dampak perubahan  sebelum  mempelajari pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin belum bisa memutuskan pengambilan keputusan yang bijaksana, setelah  mempelajari modul 3.1 muncul perubahan dengan memberikan dampak positif dalam mengambil keputusan. Setelah mempelajari materi ini, seorang pemimpin akan lebih terlatih untuk mengidentifikasi dilema etika dan mempertimbangkan bujukan moral yang mungkin terjadi dalam suatu keputusan. Pemimpin juga akan memahami lebih dalam tentang empat paradigma pengambilan keputusan dan prinsip-prinsip yang terkait.
    Dengan mempelajari langkah-langkah pengambilan keputusan yang efektif, pemimpin juga akan dapat melakukan analisis yang lebih komprehensif dan menyeluruh sebelum memutuskan keputusan akhir. Selain itu, pemimpin akan lebih memahami pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip moral dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadidi saat ini maupun di masa yang akan datang.
Mempelajari  modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin sangat penting karena:
  1. Sebagai individu atau pemimpin selalu dihadapkan pada situasi di mana kita harus mengambil keputusan yang berdampak pada diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan kita.
  2. mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan yang mendasari pengambilan keputusan kita, seperti rasa tanggungjawab, disiplin, saling menghargai,  kejujuran, keadilan, keberanian, dan empati, agar keputusan yang kita ambil tidak hanya memperhitungkan kepentingan pribadi tetapi juga dampaknya pada orang lain dan lingkungan.
  3. tindakan dan keputusan kita dapat mempengaruhi banyak orang dan organisasi yang kita pimpin. Dengan memahami nilai-nilai kebajikan, kita dapat menjadi pemimpin yang memimpin dengan integritas dan kejujuran serta memastikan bahwa keputusan kita selalu didasarkan pada nilai-nilai yang benar. 
  4. pengambilan keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan  dapat membantu kita menghindari kesalahan moral dan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif dilingkungan sekolah atau lembaga yang dipimpin.



25 Maret 2023

2.3.a.8. Koneksi Antar Materi -Modul 2.3

Peran Coaching dalam Supervisi Akademik untuk meningkatkan kinerja pendidik demi proses pembelajaran yang berpihak kepada murid

Peran sebagai seorang guru di sekolah sesuai dengan Filosopi Ki Hajar Dewantara bahwa guru mempunyai tugas menuntun murid untuk menemukan kekuatan kodratnya. Dengan potensi yang dimiliki murid diharapkan bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya  baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Murid diberikan kebebasan  untuk mengembangkan potensinya dengan tuntunan guru agar lakunya tetap berada sesuai aturan atau norma yang berlaku. Keadaan zaman pada saat ini berbeda dengan zaman pada masa sebelumnya. Di era sekarang  dengan perkembangan Teknologi Pendidikan yang semakin pesat atau disebut Era Digitalisasi sebagai guru perlu mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan agar tidak tertinggal dengan adanya perubahan. Melalui pelatihan, Seminar, Workshop maupun lokakarya bisa diikuti supaya kompetensi dapat sikap, pengetahuan dan keterampilan meningkat demi sebuah transformasi pendidikan yang berpihak pada murid.

Dalam kehidupan sekolah, Guru untuk  memenuhi kebutuhan murid ada yang perlu diperhatikan diantaranya kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. Guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya perlu memenuhi tahapan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut atas kegiatannya demi ada sebuah evaluasi yang berkelanjutan. Guru perlu membuat perencanaan yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran atau yang dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) sebagai patokan dalam  proses pembelajaran di kelas. Dalam perencanaan tersebut perlunya kesiapan bagi guru untuk mempersiapkannya sebelum masuk kelas baik guru maupun siswanya.  Guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada murid, kondisi kelas yang nyaman dalam belajar, kesiapan psikologis murid, melakukan asessmen diagnotik sebagai langkah pemetaan bagi murid dalam kelas supaya murid dapat terlayani dengan baik sesuai dengan latar belakang murid baik dilihat potensinya mapun dari sisi keluarganya. Dengan keragaman yang dimiliki oleh siswa dan hasil pemetaan dari berbagai sumber informasi yang berbasis data memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Murid akan memilih minatnya masing-masing agar motivasi belajarnya meningkat, guru tidak bisa memaksakan murid untuk mengikuti kehendak guru.

Guru dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan gaya belajar murid.  Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga yaitu :

  1. Visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
  2. auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
  3. kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands on, dsb). Dengan melihat gaya belajar murid,  guru dapat melayani kebutuhan murid dengan baik. Untuk menampilkan kompetensi murid, guru memberikan  tantangan membuat produk sesuai dengan kompetensi murid sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Produknya bisa membuat video, membuat gambar/melukis, puisi, menyanyi, menjelaskan materi melalui Power Point dan lain sebagainya.

Disamping pembelajaran berdiferensiasi perlu integrasi pembelajaran sosial dan emosional dalam proses pembelajaran di kelas untuk kesiapan belajar murid maupun guru. Pembelajaran sosial dan emosional merupakanpPembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.  Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran perlu dimiliki oleh guru untuk pembelajaran yang berpihak kepada murid. Kompetensi yang perlu dikembangkan yaitu:

  1. Kesadaran diri, memberikan pemahaman, penghayatan dan kemapuan untuk mengelolah emosi;
  2. Manajemen diri, menetapkan dan mencapai tujuan positif;
  3. Kesadaran sosial, merasakan dan menunjukkan  empati kepada orang lain; 
  4. Keterampilan Berelasi, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif
  5. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, mampu untuk menentukan dan membuat keputusan dengan berbagai alternatif pilihan dengan mempertimbangkan kepedulian, kapasitas untuk mengevaluasi manfaat dan kosekuensi atas segala tindakan dan perilaku menuju kesejahteraan psikologis.  

Kompetensi sosial dan emosional yang dimunculkan dalam proses pembelajaran di kelas diharapkan guru mampu mengetahui emosional siswa dan guru dapat mengendalikan emosinya, mampu secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana dan menentukan cara untuk mencapainya,  mampu menciptakan  lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga seluruh individu sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis ( well-being) secara optimal. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk ketercapaian  pembelajaran sosial  dan emosional dapat diintegrasikan melalui 1. Pengajaran KSE secara spesifik dan eksplisit, 2. Integrasi dalam pembelajaran, praktik mengajar dan kurikulum akademik , 3. Penciptaan iklim kelas, Budaya dan kebijakan sekolah, 4.  Penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tendik.

                Menuntun murid  terkadang menemukan permasalahan yang muncul baik dari murid, guru maupun dari rekan sejawat. Disini diperlukan keterampilan Coaching untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan diberikan alternatif pilihan atau menggali informasi Coachee supaya muncul ide-ide baru.  Guru melakukan kegiatan coaching dengan memegang prinsip kemitraan, percakapan kreatif dan memaksimalkan potensi  dan  dalam percakapan coaching untuk mengembangkan alur TIRTA.  Seorang Coach perlu memiliki kompetensi inti yang perlu dikembangkan dalam percakapan Coaching diantaranya presence/kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot.

Dalam kaitannya dengan Supervisi Akademik merupakan   serangkaian  aktivitas untuk memberikan dampak langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran di kelas. Supervisi Akademik merupakan bentuk tagihan yang dilakukan oleh pemimpin sekolah  sebagai tanggungjawab  untuk melaksanakan evaluasi terhadap para pendidik. Prinsip-prinsip  supervisi akademik dengan paradigma berpikir  coaching meliputi kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif. Tiga tahapan dalam supervisi akademik meliputi pra observasi, observasi dan pasca observasi. Tips melakukan supervisi akademik dengan paradigma berpikir  coaching yaitu fokus pada coachee dengan semangat memberdayakan potensi, hadir seutuhnya dalam sesi percakapan, aktifitas keterampilan mendengarkan dan bertanya dengan pertanyaan berbobot.

Sebagai Pemimpin pembelajaran selayaknya melakukan kegiatan untuk menagih kepada pendidik  sebagai bentuk rasa tanggungjawab yang penuh supaya dapat mengevaluasi kompetensi yang dimiliki oleh seorang pendidik. Supervisi Akademik biasa dilakukan 1 semester ( 6 bulan ) yang dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap pendidik atau rekan sejawat yang telah melakukan mendapatkan mandat dari atasannya untuk melakukan supervisi akademik terhadap rekan sejawatnya. Dengan memegang prinsip-prinsip coaching, pemimpin pembelajaran melaksanakan coaching terhadap pendidik mulai dari Pra Supervisi/Observasi, Ovservasi, Pasca Supervisi/Observasi dengan menggunakan alur TIRTA. Dari hasil tindak lanjut memberikan umpan balik,  ada hal baru yang perlu dikembangkan lebih lanjut dari komptensi inti yang perlu dikembangkan untuk menggali informasi secara optimal dari Coach terhadap Coachee supaya Coachee mampu menyelesaikan dan memutuskan atau membuat langka-langkah yang tepat atas permasalahan yang dialaminya.

Pengalaman belajar melaksanakan praktik coaching terhadap murid berkaitan dengan emosi yang dirasakan termotivasi untuk giat belajar, mendapatkan pemahaman yang baik tentang konsep coaching dan coaching untuk supervisi akademik, tertantang untuk melakukan praktik coaching dengan murid, guru dan rekan sejawat supaya praktik coachingnya lebih baik lagi. Yang sudah baik dalam praktik coaching yaitu mendapatkan pemahaman  materi coaching dan yang perlu diperbaiki dalam praktik coaching untuk belajar terus menerus kompetensi  mendengarkan aktif agar bisa menggali informasi secara optimal dan dapat mengajukan pertanyaan berbobot kepada coachee.  Implikasi terhadap kompetensi diri  yaitu dapat menambah dan  mengoptimalkan kekuatan diri sebagai Coach  dalam membimbing dan menuntun murid untuk menemukan kebahagiannya.

Analisa dalam praktik Coaching yang telah dilakukan dalam supervisi akademik sebagai langkah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seorang pendidik untuk meningkatkan kinerjanya mencapai tujuan pembelajaran dan meningkatkan motivasi guru. Dalam coaching terbangun kemitraan antara Coach dan Coachee  sehingga muncul rasa kekeluargaan dalam membangun rasa percaya diri yang dapat mengelolah dan menggali informasi lebih dalam.  Setiap pelaksanaan Coaching ada tantangan yang dialami di sekolah bahwa supervisi akademik yang dilakukan 1 semester sekali memberikan warna sejauh mana seorang pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran apakah mengalami kendala atau tidak. Pemimpin pembelajaran dapat melakukan Coaching bagi pendidik dengan kompetensi yang dimiliki untuk hadir sepenuhnya mendengarkan coachee, menanyakan pertanyaan berbobot untuk merangsang ide-ide baru supaya permasalahannya dapat terselesaikan dengan tuntunan Coach. 


23 Februari 2023

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Pembelajaran Berdiferensiasi berpihak pada murid 
untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila


    Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam pembelajaran berdiferensiasi berkaitan:

  • Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
  • Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya
  • Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.
  • Manajemen kelas yang efektif.
  • Penilaian berkelanjutan.

Untuk memenuhi kebutuhan belajar murid  ada 3 aspek diantaranya:

  1. Kesiapan Belajar Murid ( Readiness)

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan mereka tantangan, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi atau keterampilan baru tersebut.

      2. Minat Murid 

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.  Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menarik minat murid diantaranya adalah dengan: 

  • menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian murid (misalnya dengan humor, menciptakan kejutan-kejutan, dsb); 
  • menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu murid; 
  • mengkomunikasikan nilai manfaat dari apa yang dipelajari murid, 
  • menciptakan kesempatan-kesempatan belajar di mana murid dapat memecahkan persoalan (problem-based learning).

      3. Profil Belajar Murid

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan efisien. 

Profil belajar belajar murid dipengaruhi beberapa faktor :

  • Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb.
  • Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
  • Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu visual, auditori dan kinestetik.Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences)
  • Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences)

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mengetahui kebutuhan belajar murid yaitu : 
  • mengamati perilaku murid-murid mereka; 
  • mencari tahu pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik yang akan dipelajari;
  • melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut; 
  • mendiskusikan kebutuhan murid dengan orang tua atau wali murid; 
  • mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas; 
  • bertanya atau mendiskusikan permasalahan dengan murid; 
  • membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya; 
  • berbicara dengan guru murid sebelumnya; 
  • membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini; 
  • menggunakan berbagai penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang sesuai; 
  • melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid; 
  • mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka;
    Untuk memenuhi kebutuhan murid, guru melakukan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan yaitu:
  1. Diferensiasi Konten merupakan materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.
  2. Diferensiasi Proses adalah kegiatan yang memungkinkan murid berlatih dan memahami atau memaknai konten.
  3. Diferensiasi Produk merupakan bukti yang menunjukkan apa yang murid telah pahami. Membedakan dan memodifikasi produk sebagai hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.
    Dari materi pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan di kelas dengan melihat pemetaan murid sesuai dengan kebutuhannya yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dengan perencanaan yang sesuai berdasarkan kebutuhan  murid diharapkan proses pembelajaran  dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Guru membuat media yang bervariasi sesuai  konten, proses dan produk dari hasil pemetaan murid. Dengan melihat minat murid, guru dapat menuntun murid yang karakteristiknya berbeda dapat terlayani dengan baik.
Pembelajaran berdiferensiasi berkaitan erat dengan filosopi Ki Hajar Dewantara, dimana guru memberikan contoh di depan, memotivasi dan memberikan dorongan dari belakang kepada murid.  Tujuan pendidikan menurut Ki hajar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat  yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Anak dengan kekuatan kodratnya mempunyai potensi yang sudah dimiliki sejak lahir. Guru memberikan proses Pembelajaran berpihak kepada murid dan pembelajaran sepanjang hayat.   Ada lima prinsip pembelajaran dengan paradigma baru yang dapat diperankan oleh satuan pendidikan dan guru untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas dan berpihak pada murid yaitu:
  1. mempertimbangkan kebutuhan capaian belajar murid
  2. membangun kapasitas belajar murid menjadi pembelajar sepanjang hayat
  3. mendukung perkembangan kognitif dan karakter murid
  4. menyesuaikan konteks kehidupan murid-murid tumbuh dan berkembang berdasarkan konteks kebudayaan disekitarnya
  5. mengarah pada masa depan yang berkelanjutan
    Guru penggerak diharapkan untuk memahami dan mampu menjiwai  nilai-nilai  berpihak pada murid,  reflektif,  mandiri,  kolaboratif serta  inovatif dalam menuntun murid dengan berbagai keunikannya sehingga murid dengan potensi dapat menemukan minat bakatnya. Guru Penggerak diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Kepemimpinan seorang Guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.  Dalam menjalankan perannya sebagai Guru Penggerak mempunyai 5 peran diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi Coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid ( Student Agency ), menggerakkan Komunitas Praktisi.
    Semua peran tersebut Guru Penggerak harus mampu menerapkannya dalam lingkungan sekitar terutama dilingkungan sekolah. Di sekolah berhadapan dengan warga sekolah yang mempunyai karakter/watak yang berbeda untuk dituntun dan dibimbing sesuai dengan tujuan bersama agar visi sekolah dapat terwujud. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan yang perlu di pelihara, dipupuk dan diolah dengan baik untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dengan pendekatan Inquiri Apresiatif,  Guru Penggerak dapat melihat dan menggali potensi/aset yang ada di sekolahnya. Sekolah mempunyai mimpi dan harapan untuk muridnya maka dari itu semua warga sekolah perlu berkolaborasi,  baik dengan rekan sejawat, kepala sekolah, komite sekolah maupun dengan instansi terkait untuk mewujudkan mimpinya. Program sekolah tersusun dengan program jangka pendek, menengah dan jangka panjang semuanya diperuntukkan untuk murid. Dengan menggali potensi yang dimiliki oleh murid, potensi pendidik yang berkompeten, lingkungan sekolah yang baik, sarana prasana mendukung, serta dukungan semua warga sekolah  membentuk ekosistem sekolah sesuai visi yang ditetapkan. Dari potensi (kekuatan positif) yang dimiliki sekolah dapat membuat prakarsa perubahan positif demi perkembangan dan kemajuan sekolah. Dengan manajemen perubahan BAGJA ( Buat pertanyaan utama, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi ) kekuatan positif dapat digali, direncanakan dan diterapkan dengan harapan program sekolah yang sudah disepakati bersama dengan semua warga dapat tercapai.
    Dari tahapan BAGJA tersebut akan muncul pembiasaan-pembiasaan  positif di lingkungan sekolah yang dilakukan secara terus menerus secara teratur akan membentuk budaya positif. Budaya positif akan menimbulkan rasa aman dan nyaman pada murid di lingkungan sekolah. Budaya positif mendorong murid untuk mampu berfikir, bertindak dan mencipta yang merdeka, mandiri dan bertanggungjawab. 
Belajar budaya positif banyak konsep-konsep yang pelajari diantaranya tentang materi:
  1. Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk belajar kontrol diri dengan menggali potensi kita, agar tercapai tujuan mulia, yaitu sesuatu menjadi seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai;
  2. Teori kontrol mempunyai pandangan bahwa kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia, semua perilaku memiliki tujuan, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda, anda tidak bisa mengontrol orang lain, Kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru, model Berpikir Menang-menang;
  3. Teori motivasi terdiri dari motivasi eksternal dimana seseorang melakukan sesuatu karena untuk menghindari hukuman, untuk mendapatkan imbalan dan motivasi internal dimana seseorang  melakukan sesuatu untuk menghargai diri sendiri yang berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang dijadikan keyakinan kelas/sekolah;
  4. Hukuman dan penghargaan
  5. Bahwa penghargaan berlaku sama dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993). Penghargaan mempunyai dampak yang kurang baik bagi seseorang diantaranya Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang, Penghargaan menghukum, Penghargaan mengurangi ketepatan, Penghargaan tidak efektif, Penghargaan merusak hubungan, Penghargaan menurunkan kualitas, Penghargaan mematikan kreatifitas, Penghargaan mengurangi motivasi intrinsik;
  6. Nilai kebajikan dan keyakinan kelas mempunyai tujuan mulia yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tindakan di lingkungan kehidupan. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang ;
  7. Posisi kontrol guru terhadap murid diantaranya pemberi hukuman, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau, manajer;
  8. Kebutuhan dasar manusia ada 5 yaitu bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, penguasaan, kebebasan, kesenangan;
  9. Segitiga restitusi dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua dalam menyikapi masalah terhadap anak. Segitiga restitusi dapat dilakukan dengan langkah-langkah yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan.
        Budaya positif yang ada di sekolah perlu adanya kerjasama bersama warga sekolah sesuai harapan visi dan misi yang sudah ditetapkan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.


23 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 1.4 Budaya Positif

 
Mewujudkan Budaya Positif
Membangun Budaya Positif di Sekolah

Dengan mempelajari materi Budaya Positif  di Program Pendidikan Guru Penggerak yang meliputi materi  Disiplin Positif dan Nilai - Nilai Kebajikan Universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi - Lima Posisi Kontrol, Restitusi - Segitiga Restitusi memberikan ilmu pengetahuan yang sangat bermakna dalam pengalaman hidup saya. Perasaan saya sangat senang mendapat wawasan pengetahuan yang tadinya tidak mengetahui materi Budaya Positif  akhirnya menjadi tahu. Dengan pengetahuan yang saya miliki akan saya kembangkan dan diimbaskan di sekolah supaya murid dan warga sekolah mengetahui persamaan persepsi dalam budaya positif yang dapat diaplikasikan untuk bersama-sama membangun Budaya Positif yang berkelanjutan demi Sekolah yang berkualitas yang berpihak pada murid sesuai dengan Visi dan Misi Sekolah yang sudh ditetapkan.

Dalam sebuah Institusi atau lembaga khususnya sekolah berkeinginan untuk membuat prakarsa perubahan  untuk mewujudkan sekolah idaman. Untuk mewujudkan sekolah yang diidamkan sesuai dengan dunia berkualitas bermunculan masalah yang perlu diselesaikan dengan baik yang tidak melanggar norma. Seorang guru dan warga sekolah lainnya harus mampu menyikapi permasalahan dengan bijaksana dan merangkul semua kepentingan.  Sesuai dengan Teori Kontrol setiap tindakan manusia baik positif dan negatif memiliki konsekuensi dan memiliki tujuan. Tindakan yang dilakukan seseorang kalau dicermati dan dianalisa bertujuan untuk memenuhi  kebutuhan dasar manusia tapi dengan cara yang berbeda. Baik siswa maupun guru memerlukan kebutuhan dasar dengan caranya masing-masing supaya kebutuhannya tercukupi.

Setiap manusia dalam hidupnya memiliki motivasi baik karena dorongan eksternal maupun internal tergantung bagaimana manusia itu sendiri mau mempunyai motivasi apa. Motivasi seseorang berbeda-beda melakukan sebuah tindakan, apakah karena ingin dipuji orang lain, menghindari hukuman, imbalan atau untuk menghargai diri sendiri sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang dipercayai. Mari kita lihat tabel dibawah ini untuk memberikan deskripsi yang lebih jelas tentang kaitannya teori motivasi dengan identitas yang gagal dan identitas yang sukses.

Berdasarkan tabel di atas bahwa sesorang dengan motivasi eksternal akan memiliki identitas yang gagal karena terbelenggu dengan hukuman walaupun sesorang itu mendapatkan penghargaan sedangkan  dengan motivasi internal  seseorang akan memiliki identitas yang sukses karena untuk mendapatkan penghargaan muncul motivasinya dari diri sendiri .

Begitu juga dengan permasalahan murid yang dihadapi oleh guru dalam menuntunnya tidak semudah membalikkan telapak tangan supaya murid dapat menerapkan disiplin positif tapi perlu pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mewujudkan sekolah yang berbudaya positif. Untuk menyikapi permasalahan dialami oleh murid guru melakukan posisi kontrol sebagai Manajer dengan Pendekatan Segitiga Restitusi dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menstabilkan identitas
  2. Validasi tindakan yang salah
  3. Menanyakan keyakinan

Dengan menerapkan Segitiga Restitusi murid diajak menanamkan rasa bertanggungjawab untuk belajar mencari solusi bersama atas kesalahannya. Guru berharap kepada murid dengan tindakan yang dilakukannya agar tidak mengulangi perbuatannya dan menjadi murid yang berkepribadian baik untuk kedepannya.

Sebagai tindak lanjut pengembangan kedepan,   saya akan berusaha untuk menerapkan materi Budaya Positif yang diperoleh dari Program Pendidikan Guru Penggerak di sekolah supaya murid dapat belajar disiplin dengan cara memanusiakan manusia dalam mewujudkan sekolah yang nyaman dan aman sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sudah disepakati bersama dan diyakininya. Dan saya akan terus melakukan tindakan kolaborasi dengan semua warga sekolah dan terus melakukan perbaikan serta menerima saran atas rencana kegiatan dan pelaksanaannya dari semua pihak dalam mewujudkan sekolah yang berbudaya positif demi kepentingan warga sekolah terutama keberpihakan terhadap murid.

 

 

 

 




22 Desember 2022

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

 Membangun
Budaya Positif yang berpihak pada murid

Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Tujuan pendidikan adalah menuntun ( memfasilitasi/ membantu)  anak untuk menebalkan garis samar-samar  agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan).  Ada 3 semboyan  yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam menuntun yaitu  ing ngarso sung tulodo,  ing madyo mangun karso,  tut wuri handayani artinya di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan prinsip ini berlaku untuk semua pamong atau guru dan murid di taman siswa. Dari tuntunan itu akan mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Filosopi Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa  seorang guru mempunyai nilai dan peran untuk menuntun murid yang memiliki kodrat alam dan kodrat zaman menuju kebahagiaan yang setinggi-tingginya melalui proses pembelajaran.  Nilai Guru Penggerak untuk menuntun murid  yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, berpihak pada murid sedangkan Peran Guru Penggerak diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, menggerakkan komunitas praktisi. Dengan nilai dan peran yang dimiliki oleh Guru Penggerak dapat diimplementasikan untuk membuat perubahan demi kepentingan pembelajaran bagi murid. Prakarsa perubahan yang direncanakan melalui pendekatan Inquiri Apresiasif (IA)  dengan   melihat asset/potensi yang dimiliki sekolah dengan dukungan semua warga sekolah untuk mewujudkan Visi Sekolah yang telah ditetapkan bersama.  Dalam mewujudkan Visi Sekolah dengan menggunakan tahapan BAGJA yaitu Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi.

Dari tahapan BAGJA tersebut akan muncul pembiasaan-pembiasaan  positif di lingkungan sekolah yang dilakukan secara terus menerus secara teratur akan membentuk budaya positif. Budaya positif akan menimbulkan rasa aman dan nyaman pada murid di lingkungan sekolah. Budaya positif mendorong murid untuk mampu berfikir, bertindak dan mencipta yang merdeka, mandiri dan bertanggungjawab. 

Belajar budaya positif banyak konsep-konsep yang pelajari diantaranya tentang materi :

a.  Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk belajar kontrol diri dengan menggali potensi kita, agar tercapai tujuan mulia, yaitu sesuatu menjadi seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai;

b.    Teori kontrol mempunyai pandangan bahwa kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia, semua perilaku memiliki tujuan, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda, anda tidak bisa mengontrol orang lain, Kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru, model Berpikir Menang-menang;

c.  Teori motivasi terdiri dari motivasi eksternal dimana seseorang melakukan sesuatu karena untuk menghindari hukuman, untuk mendapatkan imbalan dan motivasi internal dimana seseorang  melakukan sesuatu untuk menghargai diri sendiri yang berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang dijadikan keyakinan kelas/sekolah;

d.      Hukuman dan penghargaan

Bahwa penghargaan berlaku sama dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993).  Penghargaan mempunyai dampak yang kurang baik bagi seseorang diantaranya Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang, Penghargaan menghukum, Penghargaan mengurangi ketepatan, Penghargaan tidak efektif, Penghargaan merusak hubungan, Penghargaan menurunkan kualitas, Penghargaan mematikan kreatifitas, Penghargaan mengurangi motivasi intrinsik;

e.     Nilai kebajikan dan keyakinan kelas mempunyai tujuan mulia yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan tindakan di lingkungan kehidupan. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang ;

f.    Posisi kontrol  guru terhadap murid diantaranya pemberi hukuman, pembuat  rasa bersalah, teman, pemantau, manajer;

g.  Kebutuhan dasar manusia ada 5 yaitu bertahan hidup, kasih sayang dan  rasa diterima, penguasaan, kebebasan, kesenangan;

h.   Segitiga restitusi dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua dalam menyikapi masalah terhadap anak. Segitiga restitusi dapat dilakukan dengan langkah-langkah yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan. 

Hal yang menarik dalam mempelajari modul ini, saya lebih bijaksana dalam menangani permasalahan murid dan belajar mengendalikan emosi  diri  serta belajar untuk memposisikan diri untuk dapat menyelesaikan secara musyawarah agar permasalahan dapat dibangun secara bersama-sama untuk menuju solusi yang terbaik sehingga budaya positif terbentuk.

Saya mendapatkan wawasan pengetahuan yang dapat menginspirasi untuk membuat perubahan dalam menuntun murid dan menyikapi segala permasalahan dengan bijaksana. Selama ini dalam menyelesaikan masalah murid dilakukan dengan dengan kata-kata kasar, memvonis anak bersalah tanpa mendengarkan kronologis kejadiannya terlebih dahulu. Dengan pengetahuan budaya positif yang dimiliki dalam Pendidikan Guru Penggerak, paradigma penyelesaian masalah dirubah dengan pendekatan Segitiga Restitusi dengan posisi guru sebagai Manajer.

Awalnya saya lebih sering menggunakan posisi kontrol pemberi hukuman kepada murid yang sekiranya dianggap lebih baik dan memberi efek jera agar murid dapat taat  pada peraturan. Berjalannya waktu anak yang diberi hukuman ternyata secara psikologis menjadi pendiam pada saat proses pembelajaran. Dengan melihat kejadian seperti itu, saya belajar untuk memposisikan diri untuk menerapkan posisi manajer dalam menikapan permasalahan dengan anak.

Perasaan saya setelah memberi sangsi hukuman dengan dengan kata-kata yang kasar kepada anak dan anak menjadi pendiam, dalam hati saya merasa bersalah. Untuk menebus kesalahan, anak yang saya beri hukuman dalam setiap pertemuan proses pembelajaran saya dekati untuk  diberi motivasi internal agar kepribadiannya menjadi lebih baik.

Setiap anak dengan perilakunya yang positif maupun negatif mempunyai maksud dan tujuan  menimbulkan konsekkuensinya masing-masing. Perilaku yang dilakukan anak dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kita sebagai guru dapat memfasilitasi kebutuhan dasar tersebut. Dan apabila ada permasalahan dengan murid lakukan perubahan untuk selalu mengajak murid belajar menyelesaikan  permasalahan secara bersama sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal agar tujuan mulia dapat tercapai. Peran guru penggerak terus belajar untuk melakukan refleksi atas segala apa yang sudah direncanakan dan diaplikasikan untuk perbaikan yang lebih baik lagi dalam membentuk budaya positif sekolah.

Dalam berinteraksi dengan murid saya sering menerapkan posisi kontrol pemberi hukuman dengan asumsi agar siswa lebih jera dan diharapkan untuk taat pada peraturan walaupun muncul dampak psikologis pada murid yang terkenang selama hidupnya karena pernah dimarahi dan diberi hukuman. Disamping pemberi hukuman saya pernah menerapkan posisi saya sebagai teman dalam menyelesaikan masalah siswa. Perasaan saya dengan posisi kontrol pemberi hukuman  dan sebagai teman merasa ini solusi terbaik untuk mendisiplinkan siswa ternyata kenyataan yang muncul siswa menjadi murung dan pendiam. Untuk menyikapi permasalahan murid perlu perubahan dengan posisi kontrol sebagai Manajer dengan belajar menyelesaikan permasalahan dengan pendekatan segitiga restitusi. Perasaan yang ditimbulkan dengan penerapan segitiga restitusi anak merasa dihargai, belajar bertanggunjawab atas segala tindakannya dan dituntun untuk belajar memperbaiki perilakunya sendiri. Saya sebagai guru merasa senang dapat menyelesaikan permasalahan bersama sebab siswa dapat belajar dari kesalahannya untuk berpedoman pada kesepakatan kelas yang dijadikan sebagai keyakinan. Perbedaan yang muncul dari posisi kontrol yang saya terapkan ternyata pemberi hukuman maupun guru menjadi teman perilaku siswa menjadi merasa takut, pendiam, tidak ceria, merasa bersalah, tidak percaya diri, merasa ketergantungan sedangkan posisi sebagai manajer perilaku siswa menjadi ceria, senang, percaya diri, bertanggungjawab, menghargai orang lain dan berkomitmen.

Sebelum belajar modul budaya positif, saya  menerapkan penyelesaiaan masalah dengan tahapan  segitiga restitusi yang tidak utuh artinya ketika saya sudah berhasil meminta murid untuk mengakui kesalahannya cukup untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya tidak diberi motivasi internal sesuai nilai-nilai kebajikan.

Tahapan segitiga restitusi dilaksanakan semuanya dengan cara pertama menstabilkan identitas dengan tujuan untuk memberi rasa aman dan tenang kepada murid secara psikologis serta memberi deskripsi bahwa  setiap manusia bisa berbuat kesalahan. Kedua memvalidasi tindakan kesalahan dengan cara  mengajak murid untuk mengungkapkan perbuatannya kenapa melakukan perbuatan salah. Ketiga  menanyakan keyakinan dengan cara menanyakan kepada murid untuk mengingatkan bahwa sekolah mempunyai keyakinan kelas agar murid dapat meyakini kesepakatan kelas yang sudah dibuat bersama-sama untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.

Hal lain  yang dapat dilakukan untuk mendukung proses terciptanya budaya positif di kelas maupun di lingkungan sekolah  yaitu perlunya kolaborasi yang baik antara semua warga sekolah dan membangun kesamaan persepsi tentang budaya positif sekolah yang didalamnya ada nilai-nilai kebajikan  dan terpenuhinya sarana sekolah yang berpihak pada murid yang dapat mewujudkan sekolah yang aman, nyaman dan menyenangkan dalam proses pembelajaran.

 

RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA
Judul Modul        : Budaya Positif
Nama Peserta      : Riyanto, S,IP

Rancangan tindakan aksi nyata untuk pengimbasan Budaya Positif di sekolah  yang meliputi Latar Belakang, Tujuan, Tolok Ukur, Linimasa tindakan yang akan dilakukan, Dukungan yang dibutuhkan dapat dilihat pada link di bawah ini :

Video Rancangan Tindakan Aksi Nyata - Modul 1.4 Budaya Positif







05 November 2022

Tugas 1.1.a.8. Koneksi antar materi - Kesimpulan dan Refleksi Ki Hajar Dewantara

Filosopi Ki Hajar Dewantara inspirasi bagi guru ( pendidik )


Sumber : https://www.geografi.org/2017
/11/sejarah-ki-hajar-dewantara
 )

Dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea 4 disebutkan salah satu tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk menjadi bangsa yang cerdas dalam sebuah negara perlu ada pendidikan yang akan menjadikan negara itu mempunyai peradaban kebudayaan. Seperti dalam filosofi  Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Untuk menciptakan manusia Indonesia  yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Tujuan pendidikan menurut Ki hajar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat  yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Anak dengan kekuatan kodratnya mempunyai potensi yang sudah dimiliki sejak lahir, ibarat kertas yang masih samar-samar yang perlu penebalan. Peran pendidik sebagai pamong bagi anak  dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak dapat menemukan  kemerdekaannya dalam belajar. Proses penebalan yang dapat dilakukan oleh anak dapat dipengaruhi oleh kekuatan sosio-kultural dimana anak itu berada. Dengan adanya tuntunan dari pendidik diharapkan laku anak dapat memperbaiki lakunya menjadi manusia yang seutuhnya.

Sebelum belajar tentang filosopi pemikiran Ki hajar Dewantara, memandang anak sebagai objek dalam proses pembelajaran di sekolah yang harus menguasai materi yang ada pada kurikulum dan tuntas dan harus menurut dengan kemauan pendidik. Dengan berbagai fenomena laku anak di sekolah bahwa anak selalu disalahkan. Hukuman yang diberikan kepada anak terkadang dengan kata-kata dan perbuatan yang memberikan kesan kekerasan supaya anak jerah dan tidak mengulanginya lagi. Pendidik melaksanakan hukuman itu karena anak sudah keterlaluan atau melewati batas aturan yang telah ditetapkan dalam peraturan sekolah. Sebagai pendidik sering lupa bahwa murid perlu diberlakukan berbeda sesuai kodratnya. Tanpa mengenal latar belakang sosial budaya, karakteristik, serta permasalahan yang dihadapi oleh murid, pendidik menerapkan strategi dan metode yang sama tanpa memberikan layanan bimbingan secara individu.  

Dengan mempelajari filosopi pemikiran Ki Hajar Dewantara ternyata anak mempunyai kekuatan kodrat yang perlu dituntun dalam laku hidupnya supaya tumbuh dan berkembang untuk menemukan kemerdekaan hidupnya. Sudah saatnya pendidik melakukan perubahan untuk menghamba kepada murid/anak, memberikan tuntunan dan bimbingan kepada anak di sekolah supaya menjadi seorang manusia maupun anggota masyarakat. Anak diberikan kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan. Melaksanakan pemberlakuan hukuman dengan rasa kemanusiaan dan penghargaan. Melaksanakan strategi, model, maupun metode pembelajaran yang diterapkan harus mampu mengakomodir semua jenis karakteristik belajar murid.

Untuk memberikan penebalan lakunya anak yang menjadikan dirinya mulia dalam hidupnya dan bisa memuliakan orang lain dalam menjalani kehidupannya diperlukan tuntunan. Tuntunan dan bimbingan yang diterapkan pendidik di sekolah bisa diterapkan dengan cara :

  1. Melaksanakan pembiasaan murid datang tepat waktu di sekolah sebagai bagian dari kedisiplinan;
  2. Berpakaian rapih dan memakai seragam sekolah yang telah ditentukan dengan penuh kesadaran dari murid;
  3. Pembiasaan 3 S ( Sapa, senyum dan salam ) kepada guru dan sesama murid;
  4. Pembiasaan dalam bidang keagamaan diantaranya berdoa sebelum  dan sesudah Kegiatan Belajar Mengajar, melaksanakan  shalat wajib dan dhuha  di sekolah, membaca ayat suci Al-qur'an sesudah shalat dhuha, infaq setiap hari jum'at;
  5. Pembiasaan literasi sekolah dengan cara membaca buku-buku yang sesuai  dengan minat anak;
  6. Pembiasaan kebersihan kelas maupun di lingkungan sekolah;
  7. Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya;
  8. Pembiasaan kegiatan ektrakurikuler sesuai minat dan bakat  murid;
  9. Merancang pembelajaran berbasis permainan dengan menyesuaikan materi yang akan dipelajari agar anak bisa berkembang dengan kodratnya;
  10. Memberikan layanan bimbingan secara individu dengan melihat karakteristik murid;
  11. Membuat kesepakatan belajar dengan murid di setiap awal pembelajaran dengan memberi kesempatan pada murid mengutarakan hal-hal yang diinginkan selama pembelajaran berlangsung;
  12. Mengganti hukuman yang telah ditetapkan untuk pelanggaran yang dilakukan murid dengan jurnal karakter sebagai refleksi (penilaian diri). 

Dengan penerapan kegiatan di sekolah  yang di lakukan pendidik dapat memberikan penebalan laku anak sebagai modal dalam hidupnya supaya menjalani hidupnya dengan selamat dan bahagia. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini memberikan warna hidup dalam perkembangan dan tumbuhnya anak di sekolah maupun di luar sekolah. Mudah-mudahan  anak-anak kita dapat menjadi anak yang mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat dengan ilmu yang dimilikinya sesuai dengan harapan pendidikan Indonesia untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

 


24 Maret 2022

Materi PPKn Kelas 9 Semester Genap tentang semangat dan komitmen Persatuan dan Kesatuan Nasional dalam mengisi dan mempertahankan NKRI

 



D. Semangat dan Komitmen Persatuan dan Kesatuan Nasional dalam Mengisi dan Mempertahankan NKRI

1.  Upaya Mengisi dan Mempertahankan NKRI

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 mempunyai tekad untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan serta kedaulatan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Oleh karena itu, dalam kehidupan bernegara, aspek pertahanan merupakan faktor yang sangat hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa. Segenap warga negara harus selalu menjaga kehormatan bangsa dan negara, sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi negara sesuai dengan prinsip kedaulatan rakyat. Ada atau tidaknya negara ini, tergantung dari rakyatnya sendiri untuk mempertahankan keberadaannya.

Dalam Pasal 27 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 dijelaskan bahwa setiap warga negara itu memiliki hak dan kewajiban dalam upaya pembelaan negara. Bela negara merupakan tekad, sikap, dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan terhadap tanah air, kerelaan berkorban untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.

Semangat dan komitmen para pejuang tempo dulu dalam meraih kemerdekaan, dilandasi dengan keteguhan dan keyakinan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Maka saat ini juga masih diperlukan dalam rangka mengisi dan mempertahankan NKRI.

Menurut Pasal 30 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, dijelaskan bahwa setiap warga negara juga mempunyai hak dan kewajiban dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Usaha pertahanan keamanan negara itu dilaksanakan melalui sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (sishankamrata), yang dilaksanakan oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama serta rakyat sebagai kekuatan pendukung. TNI yang terdiri atas angkatan darat, laut, dan udara merupakan alat negara yang bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan serta kedaulatan negara. Sementara itu, Polri merupakan alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat yang bertugas mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum.

Dalam Penjelasan UU No. 3 Tahun 2002, dinyatakan bahwa pandangan hidup bangsa Indonesia tentang pertahanan negara adalah sebagaimana ditentukan dalam Pembukaan dan Pasal-pasal UUD NRI Tahun 1945, yaitu sebagai berikut.

a.   Kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

b. Pemerintah negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

c.       Hak dan kewajiban setiap warga negara, untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

d.    Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

Berdasarkan pandangan hidup tersebut, bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan pertahanan negara menganut prinsip sebagai berikut:

a.  Bangsa Indonesia berhak dan wajib membela serta mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

b.  Pembelaan negara diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya pertahanan negara merupakan tanggung jawab dan kehormatan bagi setiap warga yang didasarkan pada kesadaran hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri.

c.       Bangsa Indonesia cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kepada kemerdekaan dan kedaulatannya.

d.       Bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan menganut politik luar negeri bebas aktif.

e.     Bentuk pertahanan negara bersifat semesta, dalam arti melibatkan seluruh rakyat dan segenap sumber daya nasional, sarana, dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan.

f.    Pertahanan negara disusun berdasarkan prinsip demokrasi, hak asasi manusia, kesejahteraan umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional, hukum internasional dan kebiasaan internasional, serta prinsip hidup berdampingan secara damai dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara menurut UU No. 3 Tahun 2002 Pasal 9 ayat (2) dapat diselenggarakan melalui hal-hal berikut:

a.       Pendidikan Kewarganegaraan, dimaksudkan untuk membentuk bangsa Indonesia menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. PKn merupakan mata pelajaran yang memiliki fokus pembelajaran pada pembekalan pengetahuan, pembinaan sikap, perilaku, dan pelatihan keterampilan sebagai warga negara yang demokratis, taat hukum dalam kehidupan bermasyarakat, mengacu pada kompetensi Kewarganegaraan, yaitu:

1). pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge);

2). keterampilan kewarganegaraan (civic skills);

3). watak-watak kewarganegaraan (civic disposition).

b.  Pelatihan dasar kemiliteran, merupakan usaha untuk membantu TNI dan Polri dalam menjaga kemanan dan ketertiban negara. Misalnya, pelatihan dasar militer yang dilakukan di lingkungan perguruan tinggi, baik sebagai anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) atau melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN).

c.   Pengabdian sebagai Prajurit TNI dan Polri. TNI berperan sebagai alat pertahanan Nega-ra Kesatuan Republik Indonesia yang bertugas mempertahankan kedaulatan negara dan keutu-han wilayah; melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa; melaksanakan operasi militer selain perang; ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian regional dan internasional. Sementara itu, tugas utama Pol-ri adalah sebagai alat negara yang memelihara kemanan dan ketertiban masyarakat, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat serta me-negakkan hukum.

d.  Pengabdian sesuai dengan profesi, merupakan pengabdian semua warga negara yang sesuai dengan profesi dan kemampuan yang dimilikinya yang dilandasi kesadaran akan cinta tanah air serta semangat rela berkorban untuk kepentingan dan kemajuan bangsa termasuk dalam menanggulangi dan atau memperkecil akibat yang ditimbulkan oleh perang, bencana alam, dan bencana lainnya.

Seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk berpartisipasi atau turut serta dalam upaya pembelaan negara. Pembelaan negara bukan hanya dilakukan oleh para pahlawan tempo dulu dalam berjuang meraih kemerdekaan atau dalam mempertahankan kemerdekaan saja, namun kita semua adalah pemilik negeri ini dan sampai kapan pun harus turut berjuang untuk mempertahankan kedaulatan serta memajukan bangsa.

2.  Perwujudan Bela Negara dalam berbagai aspek kehidupan

Upaya pembelaan negara, pada dasarnya didorong oleh rasa cinta terhadap tanah air, sikap rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, serta mampu menempatkan persatuan dan kesatuan, juga keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Partisipasi masyarakat dalam upaya pembelaan negara dapat dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, baik bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan sesuai dengan bidang profesinya masing-masing. Berikut ini beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam upaya pembelaan negara dalam berbagai bidang.

a.  Ideologi

Ideologi negara kita adalah Pancasila, sebagai warga negara, kita harus memahami nilai-nilai Pancasila serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wujud partisipasi warga negara dalam membela negara di bidang ideologi misalnya percaya dan yakin terhadap Tuhan Yang Maha

Esa dengan selalu menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing, saling menghormati dan mencintai antarsesama manusia dengan selalu melakukan kegiatan kemanusiaan, menempatkan persatuan dan kesatuan dengan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, mengutamakan musyawarah dalam penyelesaian masalah yang menyangkut kepentingan bersama, melakukan berbagai kegiatan yang mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial, serta menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban sekolah.

b. Politik dan hukum

Mewujudkan  stabilitas  politik  nasional  demi  kelangsungan  hidup pemerintahan     yang  berdaulat,  dapat  dilakukan  dengan  turut         serta menyukseskan      pemilihan  umum,  pemilihan  kepala  daerah      (pilkada), pemilihan pemimpin organisasi dan bentuk pemilihan lainnya. Kegiatan menyampaikan aspirasi secara lisan ataupun tertulis dengan sopan, bersikap kritis terhadap segala permasalahan. Upaya lainnya, dengan memberikan saran atau usul kepada pihak-pihak yang berwenang, tidak melakukan perbuatan curang atau politik uang (money politic) dalam mencapai suatu tujuan. Turut melaksanakan kebijakan-kebijakan serta peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah. Salah satu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah adalah menetapkan peraturan perundang-undangan tentang pajak. Warga negara yang dinyatakan telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak, harus membayar pajaknya sebelum jatuh tempo. Karena salah satu pendapatan negara yang digunakan untuk pembangunan nasional diperoleh melalui pajak yang dibayarkan oleh warga negara. Jika warga negara tidak membayar pajak pembangunan nasional pun akan terhambat.

c.  Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, setiap warga negara dituntut untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya yang lebih baik dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonominya, dengan:

  1. bekerja mencari nafkah;
  2.  melakukan transaksi jual beli sesuai dengan kesepakatan bersama dan ketentuan yang berlaku;
  3. mengembangkan usaha kecil, menengah dan koperasi agar lebih efisien, produktif, dan berdaya pemerintah dalam meningkatkan devisa bagi negara.

d.    Sosial budaya

Masyarakat  Indonesia  yang  tersebar  dari  Sabang  sampai  Merauke, memiliki keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan golongan. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika dengan: mempererat hubungan baik antar warga masyarakat dengan mengembangkan sikap toleransi antar suku bangsa, agama, ras dan antargolongan: memberikan bantuan kepada warga masyarakat yang tertimpa musibah bencana alam, mengalami kemiskinan, anak-anak jalanan, orang-orang cacat, orang-orang lanjut usia/jompo; mengembangkan bakat  dan kemampuan masing-masing seperti dalam bidang seni atau olahraga sehingga dapat meningkatkan prestasi yang membanggakan dan membawa harum nama baik daerahnya maupun bangsa; melestarikan adat istiadat dan budaya daerah sebagai salah satu unsur budaya nasional; memelihara dan melestarikan lingkungan hidup sehingga terhindar dari bencana alam, seperti banjir atau longsor.

e.  Pertahanan dan Keamanan

Dalam mewujudkan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta, diperlukan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat. Misalnya, melakukan kegiatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) di wilayahnya masing-masing. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan nasional yang diselenggarakan di sekolah atau di luar sekolah. Kegiatan pembelajaran dalam semua mata pelajaran, maupun dalam upacara bendera serta kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, PKS, PMR, penghijauan, Karya Ilmiah Remaja dan lain-lain.

Keanggotaan Rakyat Terlatih (Ratih) sebagai salah satu bentuk keikutsertaan warga negara yang menunjukkan sifat kesemestaan dan keserbagunaannya dalam penyelenggaraan pertahanan keamanan negara. Kegiatan Ratih meliputi pertahanan sipil (hansip), perlawanan rakyat (wanra), keamanan rakyat (kamra) dan resimen mahasiswa (menwa).

Kegiatan Perlindungan Masyarakat sebagai organisasi masyarakat untuk melakukan fungsi menanggulangi/memperkecil akibat malapetaka yang ditimbulkan oleh perang atau bencana alam.

Pengabdian sebagai Prajurit TNI dan Polri, TNI bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan negara untuk mempertahankan kedaulatan negara, keselamatan wilayah, melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa, melaksanakan operasi militer selain perang, dan ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharan perdamaian regional dan internasional. Sementara itu, Polri berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan supremasi hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.

Tugas Mandiri 6.4

Berikan contoh perilaku/sikap Warga Negara Indonesia dalam upaya mengisi dan mempertahankan NKRI!









3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya. 1.    Buatlah kesimp...