Peran Coaching dalam Supervisi Akademik untuk meningkatkan kinerja pendidik demi proses pembelajaran yang berpihak kepada murid
Peran
sebagai seorang guru di sekolah sesuai dengan Filosopi Ki Hajar Dewantara bahwa
guru mempunyai tugas menuntun murid untuk menemukan kekuatan kodratnya. Dengan
potensi yang dimiliki murid diharapkan bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan potensinya dengan
tuntunan guru agar lakunya tetap berada sesuai aturan atau norma yang berlaku. Keadaan
zaman pada saat ini berbeda dengan zaman pada masa sebelumnya. Di era
sekarang dengan perkembangan Teknologi
Pendidikan yang semakin pesat atau disebut Era Digitalisasi sebagai guru perlu
mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan agar tidak tertinggal dengan
adanya perubahan. Melalui pelatihan, Seminar, Workshop maupun lokakarya bisa
diikuti supaya kompetensi dapat sikap, pengetahuan dan keterampilan meningkat
demi sebuah transformasi pendidikan yang berpihak pada murid.
Dalam kehidupan
sekolah, Guru untuk memenuhi kebutuhan
murid ada yang perlu diperhatikan diantaranya kesiapan belajar murid, minat
belajar murid dan profil belajar murid. Guru dalam melaksanakan peran dan
tugasnya perlu memenuhi tahapan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut atas
kegiatannya demi ada sebuah evaluasi yang berkelanjutan. Guru perlu membuat
perencanaan yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran atau yang dikenal
dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) sebagai patokan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam perencanaan
tersebut perlunya kesiapan bagi guru untuk mempersiapkannya sebelum masuk kelas
baik guru maupun siswanya. Guru
mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada murid, kondisi kelas yang
nyaman dalam belajar, kesiapan psikologis murid, melakukan asessmen diagnotik
sebagai langkah pemetaan bagi murid dalam kelas supaya murid dapat terlayani
dengan baik sesuai dengan latar belakang murid baik dilihat potensinya mapun
dari sisi keluarganya. Dengan keragaman yang dimiliki oleh siswa dan hasil
pemetaan dari berbagai sumber informasi yang berbasis data memudahkan guru dalam
pelaksanaan pembelajaran di kelas. Murid akan memilih minatnya masing-masing
agar motivasi belajarnya meningkat, guru tidak bisa memaksakan murid untuk
mengikuti kehendak guru.
Guru dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan gaya belajar murid. Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga yaitu :
- Visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
- auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
- kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands on, dsb). Dengan melihat gaya belajar murid, guru dapat melayani kebutuhan murid dengan baik. Untuk menampilkan kompetensi murid, guru memberikan tantangan membuat produk sesuai dengan kompetensi murid sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Produknya bisa membuat video, membuat gambar/melukis, puisi, menyanyi, menjelaskan materi melalui Power Point dan lain sebagainya.
Disamping pembelajaran berdiferensiasi perlu integrasi pembelajaran sosial dan emosional dalam proses pembelajaran di kelas untuk kesiapan belajar murid maupun guru. Pembelajaran sosial dan emosional merupakanpPembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran perlu dimiliki oleh guru untuk pembelajaran yang berpihak kepada murid. Kompetensi yang perlu dikembangkan yaitu:
- Kesadaran diri, memberikan pemahaman, penghayatan dan kemapuan untuk mengelolah emosi;
- Manajemen diri, menetapkan dan mencapai tujuan positif;
- Kesadaran sosial, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain;
- Keterampilan Berelasi, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif
- Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, mampu untuk menentukan dan membuat keputusan dengan berbagai alternatif pilihan dengan mempertimbangkan kepedulian, kapasitas untuk mengevaluasi manfaat dan kosekuensi atas segala tindakan dan perilaku menuju kesejahteraan psikologis.
Kompetensi sosial dan emosional
yang dimunculkan dalam proses pembelajaran di kelas diharapkan guru mampu
mengetahui emosional siswa dan guru dapat mengendalikan emosinya, mampu secara
aktif menetapkan tujuan, membuat rencana dan menentukan cara untuk mencapainya,
mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga
seluruh individu sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan
kesejahteraan psikologis ( well-being) secara optimal. Berbagai cara yang dapat
dilakukan untuk ketercapaian
pembelajaran sosial dan emosional
dapat diintegrasikan melalui 1. Pengajaran KSE secara spesifik dan eksplisit,
2. Integrasi dalam pembelajaran, praktik mengajar dan kurikulum akademik , 3. Penciptaan
iklim kelas, Budaya dan kebijakan sekolah, 4. Penguatan kompetensi sosial dan emosional
pendidik dan tendik.
Menuntun murid
terkadang menemukan permasalahan yang muncul baik dari murid, guru
maupun dari rekan sejawat. Disini diperlukan keterampilan Coaching untuk
membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan diberikan alternatif
pilihan atau menggali informasi Coachee supaya muncul ide-ide baru. Guru melakukan kegiatan coaching dengan
memegang prinsip kemitraan, percakapan kreatif dan memaksimalkan potensi dan
dalam percakapan coaching untuk mengembangkan alur TIRTA. Seorang Coach perlu memiliki kompetensi inti yang
perlu dikembangkan dalam percakapan Coaching diantaranya presence/kehadiran
penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot.
Dalam
kaitannya dengan Supervisi Akademik merupakan serangkaian
aktivitas untuk memberikan dampak langsung pada guru dan kegiatan
pembelajaran di kelas. Supervisi Akademik merupakan bentuk tagihan yang
dilakukan oleh pemimpin sekolah sebagai
tanggungjawab untuk melaksanakan
evaluasi terhadap para pendidik. Prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma
berpikir coaching meliputi kemitraan,
konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif.
Tiga tahapan dalam supervisi akademik meliputi pra observasi, observasi dan
pasca observasi. Tips melakukan supervisi akademik dengan paradigma
berpikir coaching yaitu fokus pada
coachee dengan semangat memberdayakan potensi, hadir seutuhnya dalam sesi
percakapan, aktifitas keterampilan mendengarkan dan bertanya dengan pertanyaan
berbobot.
Sebagai Pemimpin
pembelajaran selayaknya melakukan kegiatan untuk menagih kepada pendidik sebagai bentuk rasa tanggungjawab yang penuh
supaya dapat mengevaluasi kompetensi yang dimiliki oleh seorang pendidik.
Supervisi Akademik biasa dilakukan 1 semester ( 6 bulan ) yang dilakukan oleh
Kepala Sekolah terhadap pendidik atau rekan sejawat yang telah melakukan mendapatkan
mandat dari atasannya untuk melakukan supervisi akademik terhadap rekan
sejawatnya. Dengan memegang prinsip-prinsip coaching, pemimpin pembelajaran
melaksanakan coaching terhadap pendidik mulai dari Pra Supervisi/Observasi,
Ovservasi, Pasca Supervisi/Observasi dengan menggunakan alur TIRTA. Dari hasil
tindak lanjut memberikan umpan balik, ada hal baru yang perlu dikembangkan lebih
lanjut dari komptensi inti yang perlu dikembangkan untuk menggali informasi
secara optimal dari Coach terhadap Coachee supaya Coachee mampu menyelesaikan
dan memutuskan atau membuat langka-langkah yang tepat atas permasalahan yang
dialaminya.
Pengalaman
belajar melaksanakan praktik coaching terhadap murid berkaitan dengan emosi
yang dirasakan termotivasi untuk giat belajar, mendapatkan pemahaman yang baik
tentang konsep coaching dan coaching untuk supervisi akademik, tertantang untuk
melakukan praktik coaching dengan murid, guru dan rekan sejawat supaya praktik
coachingnya lebih baik lagi. Yang sudah baik dalam praktik coaching yaitu
mendapatkan pemahaman materi coaching dan
yang perlu diperbaiki dalam praktik coaching untuk belajar terus menerus
kompetensi mendengarkan aktif agar bisa
menggali informasi secara optimal dan dapat mengajukan pertanyaan berbobot
kepada coachee. Implikasi terhadap kompetensi
diri yaitu dapat menambah dan mengoptimalkan kekuatan diri sebagai
Coach dalam membimbing dan menuntun
murid untuk menemukan kebahagiannya.
Analisa
dalam praktik Coaching yang telah dilakukan dalam supervisi akademik sebagai
langkah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seorang pendidik untuk
meningkatkan kinerjanya mencapai tujuan pembelajaran dan meningkatkan motivasi
guru. Dalam coaching terbangun kemitraan antara Coach dan Coachee sehingga muncul rasa kekeluargaan dalam
membangun rasa percaya diri yang dapat mengelolah dan menggali informasi lebih
dalam. Setiap pelaksanaan Coaching ada
tantangan yang dialami di sekolah bahwa supervisi akademik yang dilakukan 1
semester sekali memberikan warna sejauh mana seorang pendidik dalam
melaksanakan proses pembelajaran apakah mengalami kendala atau tidak. Pemimpin
pembelajaran dapat melakukan Coaching bagi pendidik dengan kompetensi yang
dimiliki untuk hadir sepenuhnya mendengarkan coachee, menanyakan pertanyaan
berbobot untuk merangsang ide-ide baru supaya permasalahannya dapat
terselesaikan dengan tuntunan Coach.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar