25 Maret 2023

2.3.a.8. Koneksi Antar Materi -Modul 2.3

Peran Coaching dalam Supervisi Akademik untuk meningkatkan kinerja pendidik demi proses pembelajaran yang berpihak kepada murid

Peran sebagai seorang guru di sekolah sesuai dengan Filosopi Ki Hajar Dewantara bahwa guru mempunyai tugas menuntun murid untuk menemukan kekuatan kodratnya. Dengan potensi yang dimiliki murid diharapkan bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya  baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Murid diberikan kebebasan  untuk mengembangkan potensinya dengan tuntunan guru agar lakunya tetap berada sesuai aturan atau norma yang berlaku. Keadaan zaman pada saat ini berbeda dengan zaman pada masa sebelumnya. Di era sekarang  dengan perkembangan Teknologi Pendidikan yang semakin pesat atau disebut Era Digitalisasi sebagai guru perlu mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan agar tidak tertinggal dengan adanya perubahan. Melalui pelatihan, Seminar, Workshop maupun lokakarya bisa diikuti supaya kompetensi dapat sikap, pengetahuan dan keterampilan meningkat demi sebuah transformasi pendidikan yang berpihak pada murid.

Dalam kehidupan sekolah, Guru untuk  memenuhi kebutuhan murid ada yang perlu diperhatikan diantaranya kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid. Guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya perlu memenuhi tahapan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut atas kegiatannya demi ada sebuah evaluasi yang berkelanjutan. Guru perlu membuat perencanaan yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran atau yang dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) sebagai patokan dalam  proses pembelajaran di kelas. Dalam perencanaan tersebut perlunya kesiapan bagi guru untuk mempersiapkannya sebelum masuk kelas baik guru maupun siswanya.  Guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada murid, kondisi kelas yang nyaman dalam belajar, kesiapan psikologis murid, melakukan asessmen diagnotik sebagai langkah pemetaan bagi murid dalam kelas supaya murid dapat terlayani dengan baik sesuai dengan latar belakang murid baik dilihat potensinya mapun dari sisi keluarganya. Dengan keragaman yang dimiliki oleh siswa dan hasil pemetaan dari berbagai sumber informasi yang berbasis data memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Murid akan memilih minatnya masing-masing agar motivasi belajarnya meningkat, guru tidak bisa memaksakan murid untuk mengikuti kehendak guru.

Guru dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan gaya belajar murid.  Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga yaitu :

  1. Visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
  2. auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
  3. kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands on, dsb). Dengan melihat gaya belajar murid,  guru dapat melayani kebutuhan murid dengan baik. Untuk menampilkan kompetensi murid, guru memberikan  tantangan membuat produk sesuai dengan kompetensi murid sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Produknya bisa membuat video, membuat gambar/melukis, puisi, menyanyi, menjelaskan materi melalui Power Point dan lain sebagainya.

Disamping pembelajaran berdiferensiasi perlu integrasi pembelajaran sosial dan emosional dalam proses pembelajaran di kelas untuk kesiapan belajar murid maupun guru. Pembelajaran sosial dan emosional merupakanpPembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.  Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran perlu dimiliki oleh guru untuk pembelajaran yang berpihak kepada murid. Kompetensi yang perlu dikembangkan yaitu:

  1. Kesadaran diri, memberikan pemahaman, penghayatan dan kemapuan untuk mengelolah emosi;
  2. Manajemen diri, menetapkan dan mencapai tujuan positif;
  3. Kesadaran sosial, merasakan dan menunjukkan  empati kepada orang lain; 
  4. Keterampilan Berelasi, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif
  5. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, mampu untuk menentukan dan membuat keputusan dengan berbagai alternatif pilihan dengan mempertimbangkan kepedulian, kapasitas untuk mengevaluasi manfaat dan kosekuensi atas segala tindakan dan perilaku menuju kesejahteraan psikologis.  

Kompetensi sosial dan emosional yang dimunculkan dalam proses pembelajaran di kelas diharapkan guru mampu mengetahui emosional siswa dan guru dapat mengendalikan emosinya, mampu secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana dan menentukan cara untuk mencapainya,  mampu menciptakan  lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga seluruh individu sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis ( well-being) secara optimal. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk ketercapaian  pembelajaran sosial  dan emosional dapat diintegrasikan melalui 1. Pengajaran KSE secara spesifik dan eksplisit, 2. Integrasi dalam pembelajaran, praktik mengajar dan kurikulum akademik , 3. Penciptaan iklim kelas, Budaya dan kebijakan sekolah, 4.  Penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tendik.

                Menuntun murid  terkadang menemukan permasalahan yang muncul baik dari murid, guru maupun dari rekan sejawat. Disini diperlukan keterampilan Coaching untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan diberikan alternatif pilihan atau menggali informasi Coachee supaya muncul ide-ide baru.  Guru melakukan kegiatan coaching dengan memegang prinsip kemitraan, percakapan kreatif dan memaksimalkan potensi  dan  dalam percakapan coaching untuk mengembangkan alur TIRTA.  Seorang Coach perlu memiliki kompetensi inti yang perlu dikembangkan dalam percakapan Coaching diantaranya presence/kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot.

Dalam kaitannya dengan Supervisi Akademik merupakan   serangkaian  aktivitas untuk memberikan dampak langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran di kelas. Supervisi Akademik merupakan bentuk tagihan yang dilakukan oleh pemimpin sekolah  sebagai tanggungjawab  untuk melaksanakan evaluasi terhadap para pendidik. Prinsip-prinsip  supervisi akademik dengan paradigma berpikir  coaching meliputi kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif. Tiga tahapan dalam supervisi akademik meliputi pra observasi, observasi dan pasca observasi. Tips melakukan supervisi akademik dengan paradigma berpikir  coaching yaitu fokus pada coachee dengan semangat memberdayakan potensi, hadir seutuhnya dalam sesi percakapan, aktifitas keterampilan mendengarkan dan bertanya dengan pertanyaan berbobot.

Sebagai Pemimpin pembelajaran selayaknya melakukan kegiatan untuk menagih kepada pendidik  sebagai bentuk rasa tanggungjawab yang penuh supaya dapat mengevaluasi kompetensi yang dimiliki oleh seorang pendidik. Supervisi Akademik biasa dilakukan 1 semester ( 6 bulan ) yang dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap pendidik atau rekan sejawat yang telah melakukan mendapatkan mandat dari atasannya untuk melakukan supervisi akademik terhadap rekan sejawatnya. Dengan memegang prinsip-prinsip coaching, pemimpin pembelajaran melaksanakan coaching terhadap pendidik mulai dari Pra Supervisi/Observasi, Ovservasi, Pasca Supervisi/Observasi dengan menggunakan alur TIRTA. Dari hasil tindak lanjut memberikan umpan balik,  ada hal baru yang perlu dikembangkan lebih lanjut dari komptensi inti yang perlu dikembangkan untuk menggali informasi secara optimal dari Coach terhadap Coachee supaya Coachee mampu menyelesaikan dan memutuskan atau membuat langka-langkah yang tepat atas permasalahan yang dialaminya.

Pengalaman belajar melaksanakan praktik coaching terhadap murid berkaitan dengan emosi yang dirasakan termotivasi untuk giat belajar, mendapatkan pemahaman yang baik tentang konsep coaching dan coaching untuk supervisi akademik, tertantang untuk melakukan praktik coaching dengan murid, guru dan rekan sejawat supaya praktik coachingnya lebih baik lagi. Yang sudah baik dalam praktik coaching yaitu mendapatkan pemahaman  materi coaching dan yang perlu diperbaiki dalam praktik coaching untuk belajar terus menerus kompetensi  mendengarkan aktif agar bisa menggali informasi secara optimal dan dapat mengajukan pertanyaan berbobot kepada coachee.  Implikasi terhadap kompetensi diri  yaitu dapat menambah dan  mengoptimalkan kekuatan diri sebagai Coach  dalam membimbing dan menuntun murid untuk menemukan kebahagiannya.

Analisa dalam praktik Coaching yang telah dilakukan dalam supervisi akademik sebagai langkah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seorang pendidik untuk meningkatkan kinerjanya mencapai tujuan pembelajaran dan meningkatkan motivasi guru. Dalam coaching terbangun kemitraan antara Coach dan Coachee  sehingga muncul rasa kekeluargaan dalam membangun rasa percaya diri yang dapat mengelolah dan menggali informasi lebih dalam.  Setiap pelaksanaan Coaching ada tantangan yang dialami di sekolah bahwa supervisi akademik yang dilakukan 1 semester sekali memberikan warna sejauh mana seorang pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran apakah mengalami kendala atau tidak. Pemimpin pembelajaran dapat melakukan Coaching bagi pendidik dengan kompetensi yang dimiliki untuk hadir sepenuhnya mendengarkan coachee, menanyakan pertanyaan berbobot untuk merangsang ide-ide baru supaya permasalahannya dapat terselesaikan dengan tuntunan Coach. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya. 1.    Buatlah kesimp...