16 April 2023

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1



Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

    Ki Hajar Dewantara  memiliki pandangan filosofis yang relevan dalam  pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin dalam menuntun murid untuk menemukan kebahagiaan dan keselamatan  baik di dunia maupun di akhirat. Filosopi yang perlu dimiliki oleh seorang pamong yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani menjadi semboyan yang  perlu diterapkan dalam menuntun murid.
    Ki Hajar Dewantara mengajarkan pentingnya pendidikan yang holistik yang meliputi pendidikan akademik, moral, dan karakter. Dalam mengambil keputusan perlu memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan bersama serta tidak hanya mempertimbangkan kepentingan  pribadi atau kelompoknya. Pandangan filosofisnya bahwa pengambilan keputusan sebagai pemimpin harus mempertimbangkan banyak faktor dan informasi yang berbeda untuk membuat keputusan yang tepat dan bijaksana.
    Sebagai seorang pemimpin perlu memiliki nilai-nilai kebajikan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita memiliki pengaruh besar terhadap prinsip-prinsip  penyelesaian dilema etika seorang pemimpin dalam memimpin institusi moral. Untuk memutuskan keputusan perlu kecermatan ketelitian dan hati-hati agar keputusannya tidak salah dan tidak berakibat fatal bagi seorang pemimpin.  Pemimpin memiliki nilai-nilai saling menghormati, bekerjasama,  integritas, kejujuran, dan tanggung jawab yang tinggi, berjiwa besar merupakan nilai yang perlu dimiliki pemimpin untuk menggerakkan lembaga yang dipimpinnya sehingga memikirkan dampak saat ini dan jangka panjang akan lebih mungkin diambil dalam proses pengambilan keputusan.
    Dalam Pendidikan Guru Penggerak dengan adanya pendamping atau fasilitator dapat membantu dan membimbing individu untuk belajar membuat keputusan  yang berbasis nilai-nilai kebajikan dengan memperhatikan dampak yang muncul saat ini  dan masa mendatang serta mengevaluasi atas alternatif keputusannya.  Pendamping atau fasilitator juga dapat membantu individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sesuai dan efektif dengan dirinya dalam pengambilan keputusan di lingkungan sekolahnya. 
    Begitu juga dapat membantu individu untuk memahami paradigma berpikir dalam penyelesaian kasus dilema etika dengan  langkah-langkah yang harus diambil dalam proses pengambilan keputusan, termasuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, mempertimbangkan opsi-opsi yang tersedia, mengevaluasi konsekuensi dari setiap opsi, dan memilih opsi yang terbaik. Individu dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang cara-cara untuk mengambil keputusan yang tepat, terutama dalam konteks situasi yang kompleks atau tidak pasti. 
    Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya dapat membantu guru untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan mengambil keputusan yang tepat. Dalam pembelajaran Sosial emosional ( PSE ) guru harus mempunyai kompetensi untuk memunculkan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran diri, keterampilan  berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.
Dalam menghadapi permasalahan, guru mampu  mempertimbangkan nilai-nilai moral dan etika yang terlibat serta mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik dapat mengambil waktu untuk merenung dan mempertimbangkan situasi secara hati-hati sebelum membuat keputusan. Selain itu, guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik juga dapat membantu dalam membangun hubungan yang baik dengan siswa dan rekan kerja, sehingga dapat memperoleh dukungan dan masukan dalam menghadapi dilema etika. Perlunya koordinasi, kolaborasi dan diskusi dengan tim serta konsultasi dengan lembaga atau instansi terkait   sangat diperlukan sebelum keputusan dibuat agar tidak salah langkah.
    Dalam konteks pembelajaran, guru yang memiliki kemampuan sosial emosional yang baik dapat membantu siswa membangun proses belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan pada saat belajar di kelas. Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)  adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Dengan integrasi pembelajaran berdiferensiasi murid dapat  mengembangkan kemampuan sosial emosionalnya  sehingga dapat membantu murid untuk belajar sesuai dengan gaya belajar yang diinginkannya. 
    Kasus-kasus  moral atau dilema etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik karena pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk nilai-nilai moral dan etika individu. Seorang pendidik diharapkan untuk menjadi teladan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika yang baik. Guru menjadi pusat perhatian dalam berperilaku bagi murid sebab menurut murid, guru orang yang dijadikan panutan dalam pembelajaran di sekolah. Seorang pendidik juga dapat menggunakan kasus-kasus dilema etika atau bujukan moral  tersebut sebagai bahan diskusi dalam kelas untuk membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral dan etika yang baik.
    Disamping itu, Pengambilan keputusan yang tepat memiliki dampak yang besar pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.  Terbangunnya hubungan atau lingkungan yang nyaman dapat menghasilkan kinerja yang  yang lebih baik dan dapat melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab. Seorang pemimpin atau pengambil keputusan dapat membuat keputusan yang tepat, hal tersebut dapat membawa dampak positif pada lingkungan sekitarnya.
    Pemimpin memiliki tantangan-tantangan dalam pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika di lingkungan sekolah sangat   kompleks dan sulit untuk dipahami. Misalnya permasalahan tingkat kehadiran murid yang rendah disebabkan karena kemalasan, faktor sakit dan keperluan lainnya. Seorang pemimpin perlu keberanian dalam membuat keputusan dengan segala konsekuensinya dengan mempertimbangkan segala sesuatunya dari berbagai sudut.  Selain itu keterbatasan waktu menjadi  tantangan juga dalam mengambil keputusan. Seringkali, keputusan harus diambil dalam waktu yang sangat singkat, sehingga mempersulit proses pengambilan keputusan yang tepat. Yang lainnya tekanan dari berbagai pihak artinya pengambilan keputusan terkadang dipengaruhi oleh tekanan dari berbagai pihak, seperti orang tua, pihak sekolah, atau masyarakat. Untuk menyikapinya dibutuhkan  kerjasama dan keterlibatan semua pihak yang terkait, seperti guru, siswa, orang tua, dan staf sekolah, dalam proses pengambilan keputusan. Keterlibatan ini dapat membantu memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan sudut pandang dan kepentingan semua pihak yang terlibat, serta menghasilkan solusi yang lebih baik dan tepat. 
    Pengambilan keputusan yang tepat dalam pengajaran sangat berpengaruh terhadap pembelajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Murid memiliki kebutuhan belajar yang berbeda maka guru perlu memberikan pelayanan yang berbeda pula. Untuk mengetahui perbedaan dalam belajarnya diperlukan asesmen diagnostik untuk pemetaan murid. Guru menyiapkan konten, proses serta produk  yang beragam sesuai materinya. Keputusan yang tepat akan membantu kita memilih metode pengajaran yang tepat, mempertimbangkan berbagai faktor seperti kemampuan, kebutuhan, minat, dan gaya belajar murid kita, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi murid.
    Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Dalam kehidupan sekolah murid belajar dalam segala aspek baik sikap, pengetahuan dan keterampilannya yang didapat di sekolah sebagai proses pembelajaran dan pengembangannya dalam menjalani hidup untuk menemukan kebahagiannya.  Setiap murid memiliki potensinya yang perlu digali dan dikembangkan demi meraih prestasi yang diinginkan untuk masa mendatang. Murid juga dapat menyelesaikan permasalahan yang dialaminya dan dapat menemukan solusi atas permasalahannya. Dengan pendekatan segitiga restitusi, permasalahan dapat terselesaikan dan dapat memahami atas masalahnya serta murid dapat mengerti adanya kesepakatan kelas yang perlu ditaati bersama.
    Pemahaman tentang potensi dan kebutuhan murid-murid yang berbeda juga sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan yang tepat. Pemimpin pembelajaran yang baik harus dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi murid-murid, serta memberikan bimbingan dan motivasi yang tepat. Modul-modul sebelumnya yang membahas tentang kemampuan interpersonal dan sosial emosional juga sangat penting dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pembelajaran dan kepemimpinan di sekolah. Kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik dengan murid-murid, guru-guru, dan stakeholder lainnya di sekolah dapat membantu pemimpin pembelajaran untuk memahami situasi yang terjadi dan mengambil keputusan yang tepat.  
    Pemimpin juga memperhatikan 4 implementasi pembelajaran sosial dan emosional  yaitu  mengajarkan 5 kompetensi sosial emosional  secara spesifik dan eksplisit, mengintegrasikan 5 kompetensi sosial emosional dalam praktik mengajar serta kurikulum akademik,  menciptakan iklim kelas, budaya dan kebijakan sekolah, menguatkan 5 kompetensi sosial emosional ( KSE) pendidik dan tenaga kependidikan.
    Modul-modul sebelumnya dan modul materi ini saling terkait dan membentuk fondasi penting bagi pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pembelajaran dan kepemimpinan di sekolah. Penting bagi pemimpin pembelajaran dan guru-guru untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip yang telah dipelajari dalam modul-modul sebelumnya dan modul materi ini untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik dan membantu murid-murid meraih potensi terbaik mereka sesuai dengan harapan yang dinginkan. Benang merah dari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin menuntun saya untuk lebih holistik dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek untuk mendapatkan keputusan yang tepat dari berbagai masalah  kasus-kasus dilema etika maupun bujukan moral agar bisa memilih dan memilahnya dengan berbagai paradigma berpikir dan bentuk prinsip penyelesaian masalah dan dapat diuji dengan 9 langkah pengambilan yang tepat agar keputusannya dapat berdampak kepada murid, berbasis nilai-nilai kebajikan dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggungjawab sehingga permasalahannya dapat terselesaikan dengan baik.
    Dengan materi ini saya memahami dengan baik konsep-konsep  dalam modul ini yaitu dilema etika atau bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Ada hal yang menarik dalam mempelajari modul ini, saya belajar banyak bagaimana seorang pemimpin mempunyai tanggungjawab yang besar dalam memimpin sebuah lembaga. Pemimpin memiliki sebuah organisasi yang perlu diatur dengan baik dimana melibatkan banyak orang dan berbagai kepentingan. Dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki, seorang pemimpin mampu membuat keputusan secara bijaksana atas segala permasalahan yang muncul disamping program-program yang harus dibuat dan perlu dilaksanakan. Keputusan yang diambil supaya memberikan perubahan yang positif dan berguna bagi semua pihak. Terkadang seorang pemimpin dalam melaksanakan perjalanannya menemukan permasalahan walaupun  hal itu tidak diharapkan. Namun sebagai seorang pemimpin perlu membuat keputusan berani atas tindakannya dengan berbagai konsekuensi yang muncul yang perlu diterima. Harapan seorang pemimpin dapat memenuhi semua pihak agar tercapai hasil yang sangat baik atas kepemimpinannya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin perlu hati-hati sebelum memutuskan agar keputusannya tidak salah dan berakibat kurang baik bagi dirinya. 
    Dalam mengambil keputusan perlu memahami kerangka paradigma berpikir apakah situasi yang dihadapi  ini individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Mengidentifikasi ini untuk membawa penajaman dalam situasi yang dihadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai yang sama-sama penting. Pemimpin perlu juga memahami 3 prinsip dalam penyelesaian masalah yaitu mana yang dipakai apakah berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan atau berpikir berbasis rasa peduli. Selanjutnya pengambilan keputusan melalui 9 tahapan pengujian yaitu:
  • Mengenali nilai –nilai yang saling bertentangan
  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
  • Pengujian benar atau  salah : Uji legal, Uji regulasi, Uji intuisi, Uji Publikasi, Uji panutan
  • Pengujian benar lawan benar
  • Melakukan prinsip resolusi
  • Investigasi Opsi Trilema
  • Buat keputusan
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan
    Selama ini saya pernah membuat keputusan dalam menyelesaikan permasalahan terhadap siswa yang tingkat kehadirannya rendah. Setelah diadakan musyawarah dengan berbagai warga sekolah dan orang tua akhirnya murid pindah ke paket B. tetapi dalam menyelesaikan permasalahan belum memenuhi berpikir 4  paradigma dilema etika dan belum melalui 3 prinsip serta konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan saya belajar dalam modul 3.1 dalam mengambil  keputusan harus memenuhi pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dalam memutuskan dilema etika secara bijaksana demi keberpihakan kepada murid.
    Dampak perubahan  sebelum  mempelajari pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin belum bisa memutuskan pengambilan keputusan yang bijaksana, setelah  mempelajari modul 3.1 muncul perubahan dengan memberikan dampak positif dalam mengambil keputusan. Setelah mempelajari materi ini, seorang pemimpin akan lebih terlatih untuk mengidentifikasi dilema etika dan mempertimbangkan bujukan moral yang mungkin terjadi dalam suatu keputusan. Pemimpin juga akan memahami lebih dalam tentang empat paradigma pengambilan keputusan dan prinsip-prinsip yang terkait.
    Dengan mempelajari langkah-langkah pengambilan keputusan yang efektif, pemimpin juga akan dapat melakukan analisis yang lebih komprehensif dan menyeluruh sebelum memutuskan keputusan akhir. Selain itu, pemimpin akan lebih memahami pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip moral dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadidi saat ini maupun di masa yang akan datang.
Mempelajari  modul 3.1 Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin sangat penting karena:
  1. Sebagai individu atau pemimpin selalu dihadapkan pada situasi di mana kita harus mengambil keputusan yang berdampak pada diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan kita.
  2. mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan yang mendasari pengambilan keputusan kita, seperti rasa tanggungjawab, disiplin, saling menghargai,  kejujuran, keadilan, keberanian, dan empati, agar keputusan yang kita ambil tidak hanya memperhitungkan kepentingan pribadi tetapi juga dampaknya pada orang lain dan lingkungan.
  3. tindakan dan keputusan kita dapat mempengaruhi banyak orang dan organisasi yang kita pimpin. Dengan memahami nilai-nilai kebajikan, kita dapat menjadi pemimpin yang memimpin dengan integritas dan kejujuran serta memastikan bahwa keputusan kita selalu didasarkan pada nilai-nilai yang benar. 
  4. pengambilan keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan  dapat membantu kita menghindari kesalahan moral dan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif dilingkungan sekolah atau lembaga yang dipimpin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya. 1.    Buatlah kesimp...