05 November 2022

Tugas 1.1.a.8. Koneksi antar materi - Kesimpulan dan Refleksi Ki Hajar Dewantara

Filosopi Ki Hajar Dewantara inspirasi bagi guru ( pendidik )


Sumber : https://www.geografi.org/2017
/11/sejarah-ki-hajar-dewantara
 )

Dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea 4 disebutkan salah satu tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk menjadi bangsa yang cerdas dalam sebuah negara perlu ada pendidikan yang akan menjadikan negara itu mempunyai peradaban kebudayaan. Seperti dalam filosofi  Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Untuk menciptakan manusia Indonesia  yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Tujuan pendidikan menurut Ki hajar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat  yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Anak dengan kekuatan kodratnya mempunyai potensi yang sudah dimiliki sejak lahir, ibarat kertas yang masih samar-samar yang perlu penebalan. Peran pendidik sebagai pamong bagi anak  dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak dapat menemukan  kemerdekaannya dalam belajar. Proses penebalan yang dapat dilakukan oleh anak dapat dipengaruhi oleh kekuatan sosio-kultural dimana anak itu berada. Dengan adanya tuntunan dari pendidik diharapkan laku anak dapat memperbaiki lakunya menjadi manusia yang seutuhnya.

Sebelum belajar tentang filosopi pemikiran Ki hajar Dewantara, memandang anak sebagai objek dalam proses pembelajaran di sekolah yang harus menguasai materi yang ada pada kurikulum dan tuntas dan harus menurut dengan kemauan pendidik. Dengan berbagai fenomena laku anak di sekolah bahwa anak selalu disalahkan. Hukuman yang diberikan kepada anak terkadang dengan kata-kata dan perbuatan yang memberikan kesan kekerasan supaya anak jerah dan tidak mengulanginya lagi. Pendidik melaksanakan hukuman itu karena anak sudah keterlaluan atau melewati batas aturan yang telah ditetapkan dalam peraturan sekolah. Sebagai pendidik sering lupa bahwa murid perlu diberlakukan berbeda sesuai kodratnya. Tanpa mengenal latar belakang sosial budaya, karakteristik, serta permasalahan yang dihadapi oleh murid, pendidik menerapkan strategi dan metode yang sama tanpa memberikan layanan bimbingan secara individu.  

Dengan mempelajari filosopi pemikiran Ki Hajar Dewantara ternyata anak mempunyai kekuatan kodrat yang perlu dituntun dalam laku hidupnya supaya tumbuh dan berkembang untuk menemukan kemerdekaan hidupnya. Sudah saatnya pendidik melakukan perubahan untuk menghamba kepada murid/anak, memberikan tuntunan dan bimbingan kepada anak di sekolah supaya menjadi seorang manusia maupun anggota masyarakat. Anak diberikan kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan. Melaksanakan pemberlakuan hukuman dengan rasa kemanusiaan dan penghargaan. Melaksanakan strategi, model, maupun metode pembelajaran yang diterapkan harus mampu mengakomodir semua jenis karakteristik belajar murid.

Untuk memberikan penebalan lakunya anak yang menjadikan dirinya mulia dalam hidupnya dan bisa memuliakan orang lain dalam menjalani kehidupannya diperlukan tuntunan. Tuntunan dan bimbingan yang diterapkan pendidik di sekolah bisa diterapkan dengan cara :

  1. Melaksanakan pembiasaan murid datang tepat waktu di sekolah sebagai bagian dari kedisiplinan;
  2. Berpakaian rapih dan memakai seragam sekolah yang telah ditentukan dengan penuh kesadaran dari murid;
  3. Pembiasaan 3 S ( Sapa, senyum dan salam ) kepada guru dan sesama murid;
  4. Pembiasaan dalam bidang keagamaan diantaranya berdoa sebelum  dan sesudah Kegiatan Belajar Mengajar, melaksanakan  shalat wajib dan dhuha  di sekolah, membaca ayat suci Al-qur'an sesudah shalat dhuha, infaq setiap hari jum'at;
  5. Pembiasaan literasi sekolah dengan cara membaca buku-buku yang sesuai  dengan minat anak;
  6. Pembiasaan kebersihan kelas maupun di lingkungan sekolah;
  7. Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya;
  8. Pembiasaan kegiatan ektrakurikuler sesuai minat dan bakat  murid;
  9. Merancang pembelajaran berbasis permainan dengan menyesuaikan materi yang akan dipelajari agar anak bisa berkembang dengan kodratnya;
  10. Memberikan layanan bimbingan secara individu dengan melihat karakteristik murid;
  11. Membuat kesepakatan belajar dengan murid di setiap awal pembelajaran dengan memberi kesempatan pada murid mengutarakan hal-hal yang diinginkan selama pembelajaran berlangsung;
  12. Mengganti hukuman yang telah ditetapkan untuk pelanggaran yang dilakukan murid dengan jurnal karakter sebagai refleksi (penilaian diri). 

Dengan penerapan kegiatan di sekolah  yang di lakukan pendidik dapat memberikan penebalan laku anak sebagai modal dalam hidupnya supaya menjalani hidupnya dengan selamat dan bahagia. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini memberikan warna hidup dalam perkembangan dan tumbuhnya anak di sekolah maupun di luar sekolah. Mudah-mudahan  anak-anak kita dapat menjadi anak yang mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat dengan ilmu yang dimilikinya sesuai dengan harapan pendidikan Indonesia untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

 


2 komentar:

  1. Menginspirasi saya untuk lebih baik lagi dalam menjalani takdir saya sebagai pendidik, keren bapak...Alhamdulillah...semoga Allah senang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mksi bu hj....pendidik siap menuntun untuk perubahan yg lebih baik

      Hapus

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

Tujuan Pembelajaran Khusus:   CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya. 1.    Buatlah kesimp...