![]() |
| Membangun Budaya Positif di Sekolah |
Dengan
mempelajari materi Budaya Positif di Program Pendidikan Guru Penggerak
yang meliputi materi Disiplin Positif dan Nilai - Nilai Kebajikan Universal, Teori
Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan
Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi -
Lima Posisi Kontrol, Restitusi - Segitiga Restitusi memberikan ilmu
pengetahuan yang sangat bermakna dalam pengalaman hidup saya. Perasaan saya sangat
senang mendapat wawasan pengetahuan yang tadinya tidak mengetahui materi Budaya
Positif akhirnya menjadi tahu. Dengan pengetahuan yang saya miliki akan
saya kembangkan dan diimbaskan di sekolah supaya murid dan warga sekolah
mengetahui persamaan persepsi dalam budaya positif yang dapat diaplikasikan
untuk bersama-sama membangun Budaya Positif yang berkelanjutan demi Sekolah
yang berkualitas yang berpihak pada murid sesuai dengan Visi dan Misi Sekolah
yang sudh ditetapkan.
Dalam sebuah
Institusi atau lembaga khususnya sekolah berkeinginan untuk membuat prakarsa
perubahan untuk mewujudkan sekolah idaman. Untuk mewujudkan sekolah yang
diidamkan sesuai dengan dunia berkualitas bermunculan masalah yang perlu
diselesaikan dengan baik yang tidak melanggar norma. Seorang guru dan warga
sekolah lainnya harus mampu menyikapi permasalahan dengan bijaksana dan
merangkul semua kepentingan. Sesuai dengan Teori Kontrol setiap tindakan
manusia baik positif dan negatif memiliki konsekuensi dan memiliki tujuan.
Tindakan yang dilakukan seseorang kalau dicermati dan dianalisa bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia tapi dengan cara yang berbeda. Baik
siswa maupun guru memerlukan kebutuhan dasar dengan caranya masing-masing
supaya kebutuhannya tercukupi.
Setiap manusia dalam hidupnya memiliki motivasi baik karena dorongan eksternal maupun internal tergantung bagaimana manusia itu sendiri mau mempunyai motivasi apa. Motivasi seseorang berbeda-beda melakukan sebuah tindakan, apakah karena ingin dipuji orang lain, menghindari hukuman, imbalan atau untuk menghargai diri sendiri sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang dipercayai. Mari kita lihat tabel dibawah ini untuk memberikan deskripsi yang lebih jelas tentang kaitannya teori motivasi dengan identitas yang gagal dan identitas yang sukses.
Berdasarkan tabel di atas bahwa
sesorang dengan motivasi eksternal akan memiliki identitas yang gagal karena
terbelenggu dengan hukuman walaupun sesorang itu mendapatkan penghargaan
sedangkan dengan motivasi internal seseorang akan memiliki identitas yang sukses
karena untuk mendapatkan penghargaan muncul motivasinya dari diri sendiri .
Begitu juga dengan permasalahan murid yang dihadapi oleh guru dalam menuntunnya tidak semudah membalikkan telapak tangan supaya murid dapat menerapkan disiplin positif tapi perlu pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mewujudkan sekolah yang berbudaya positif. Untuk menyikapi permasalahan dialami oleh murid guru melakukan posisi kontrol sebagai Manajer dengan Pendekatan Segitiga Restitusi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Menstabilkan identitas
- Validasi tindakan yang salah
- Menanyakan keyakinan
Dengan menerapkan Segitiga
Restitusi murid diajak menanamkan rasa bertanggungjawab untuk belajar mencari
solusi bersama atas kesalahannya. Guru berharap kepada murid dengan tindakan
yang dilakukannya agar tidak mengulangi perbuatannya dan menjadi murid yang
berkepribadian baik untuk kedepannya.
Sebagai tindak lanjut pengembangan kedepan, saya akan berusaha untuk menerapkan materi Budaya Positif yang diperoleh dari
Program Pendidikan Guru Penggerak di sekolah supaya murid dapat belajar
disiplin dengan cara memanusiakan manusia dalam mewujudkan sekolah yang nyaman
dan aman sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sudah disepakati
bersama dan diyakininya. Dan saya akan terus melakukan tindakan kolaborasi
dengan semua warga sekolah dan terus melakukan perbaikan serta menerima saran
atas rencana kegiatan dan pelaksanaannya dari semua pihak dalam mewujudkan
sekolah yang berbudaya positif demi kepentingan warga sekolah terutama
keberpihakan terhadap murid.

Semoga banyak siswa berbudaya positif dan di terapkan dalam kehidun sehari hari
BalasHapusMemang betul kita harus kolaborasi dengan semua warga sekolah dan terus melakukan perbaikan serta menerima saran atas rencana kegiatan dan pelaksanaannya dari semua pihak dalam mewujudkan sekolah yang berbudaya positif demi kepentingan warga sekolah terutama keberpihakan terhadap murid.
BalasHapusBy. Roeni, S. Pd. CGP angkatan 7 Indramayu.